Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, November 09, 2007

Anda Salah Paham Tentang Manhaj Salaf

Anda Salah Paham Tentang Manhaj Salaf !
BismillahirrahmanirrahimAlhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, sahabat dan seluruh orang yang mengikuti jejaknya hingga hari kiamat, amiin.
Selanjutnya berikut saya akan menanggapi tulisan saudara kita Suripan, yang menurut saya banyak mengandung kebenaran, tetapi di waktu yang sama juga mengandung banyak kekeliruan atau kerancuan. Agar lebih jelas tanggapan saya, maka akan saya sebutkan terlebih dahulu penggalan ucapan saudara kita Suripan yang perlu ditanggapi, kemudian akan saya lanjutkan dengan komentar saya.Akhuna Suripan berkata:
BismillahirrahmanirrakhimAssalamu’alaikum Wr.Wb.Saudaraku Seiman yang saya cintai karena Allah. Puji syukur kehadirat Allah dan Salawat beserta Salam kepada junjungan kita Muhammad SAW, keluarga, para sahabat beliau yang mulia. Saya bukanlah orang yang alim di antara kalian dan bukan juga syaikh yang diagung-agungkan. Saya hanya seorang muslim biasa yang sangat prihatin melihat perkembangan umat Islam dewasa ini khususnya yang melibatkan saudara-saudara yang mengaku dirinya sebagai Salafiyun. Maha Suci Allah yang telah mengkaruniakan ilmuNya kepada saudara-saudara hingga saudara-saudara mempunyai kemampuan hujjah yang baik dalam menyampaikan ajaran Addin ini kepada ummat. Bak ibarat pedang saudara-saudara mempunyai pedang dengan mata pedang yang sangat tajam, segala puji hanya milik Allah yang berhak menerima pujian.
Alhamdulillah pada pembukaan tulisan ini, akhuna Suripan menunjukkan sikap jujur dan semoga ini keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam. Sikap jujur yang membawanya berterus terang mengutarakan fenomena yang terjadi di medan dakwah, yaitu yang berkaitan dengan keutamaan dan kelebihan yang ada pada diri ikhwah-ikhwah yang mendakwahkan dan berupaya meniti metode ulama salaf dalam beragama. Yaitu kelebihan berupa karunia dari Allah berupa ilmu agama, sehingga mereka seperti yang diutarakan oleh akhuna Suripan memiliki kemampuan hujjah yang baik dalam menyampaikan ajaran agama kepada umat. Sikap jujur ini semoga senantiasa membawa keberkahan dalam kehidupan akhuna Suripan, dan menjadi modal besar baginya dalam mencari kebenaran dan mengamalkannya, Amin.
Selanjutnya untuk sedikit membuktikan kepada para pembaca bahwa karunia ini ilmu yang didasari oleh hujjah yang jelas nan shahih/otentik adalah karunia terbesar yang didapatkan oleh umat manusia setelah hidayah mengikrarkan syahadat La ilaha illallah Muhammad Rasulullah, saya akan sebutkan beberapa dalil yang membuktikan hal itu:
يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujaadalah: 11)
Ulama ahli tafsir menegaskan bahwa maksud dari ayat ini adalah: Allah akan meninggikan kedudukan orang-orang yang beriman sebagai balasan bagi amalan mereka, sebagaimana Allah juga akan memberikan kelebihan bagi orang-orang yang berilmu dari kaum kalangan orang-orang yang beriman, sehingga kedudukan mereka lebih tinggi dibanding orang mukmin lainnya beberapa derajat. (Baca Tafsir Ibnu Jarir At Thabary 28/19).
Dan di antara dalil yang menunjukkan akan keutamaan ilmu dan orang yang berilmu adalah firman Alloh Ta’ala:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَيَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوا اْلأَلْبَابِ
“Katakanlah: ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az Zumar: 9)
Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini berkata: “Sesungguhnya yang dapat mengetahui perbedaan antara kelompok ini (yang berilmu) dari kelompok itu (yang tidak berilmu) hanyalah orang-orang yang memiliki akal.” (Tafsir Ibnu Katsir 4/48).
Ini sebagian dari sekian banyak dalil yang membuktikan bahwa orang yang berilmu lebih utama dibanding orang yang tidak berilmu. Dan bukan hanya sekedar itu, pada ayat ke-2 Allah mengisyaratkan bahwa yang dapat membedakan antara mereka hanyalah orang-orang yang memiliki akal sehat, sehingga dengan akalnya yang sehat ia dapat mengetahui bahwa orang yang berilmu lebih utama dibanding yang tidak berilmu. Saya rasa hal ini sangat jelas dan gamblang bagi orang-orang yang benar-benar berakal sehat, dan hatinya tidak ditutupi oleh dosa fanatis golongan, ashabiyah terhadap guru, atau noda-noda perbuatan dosa. Dan saya yakin, akhuna Suripan adalah termasuk salah seorang yang dapat mengetahui perbedaan antara keduanya, sehingga dengan jujur dan tanpa rasa malu akhuna suripan mengakui akan kelebihan ilmu yang ada pada orang-orang yang mengakui dan berusaha meniti manhaj salaf, dibanding lainnya. Dan menurut akhuna, mereka yang mengakui meniti manhaj salaf (salafiyyin) bak telah memiliki senjata tajam, dan ini adalah modal besar untuk berjihad dan beramal. Dan ini adalah pengakuan bahwa bila salafiyyun berhasil mengarahkan senjata tajamnya ini dengan baik dan benar, niscaya akan berhasil mengalahkan musuh. Tentu dari pengakuan ini tersirat pengakuan lain bahwa, selain mereka (salafiyyun) belum atau tidak memiliki senjata yang tajam, sehingga mana mungkin mereka dapat mengalahkan musuh bila senjatanya tumpul atau bahkan tidak memiliki senjata sama sekali. Atau bahkan yang dimilikinya adalah racun yang ia anggap sebagai obat, sehingga bukannya sembuh dari penyakit yang ia derita, akan tetapi kebinasaanlah yang akan ia temui.
Untuk mengetahui kebenaran dari pengakuan tersirat dari akhuna Suripan, maka kita harus tahu bahwa sumber kekuatan dan sebab datangnya pertolongan Allah kepada umat islam ialah iman dan amal shalih yang didasari oleh dalil dari Al Quran dan As Sunnah, bukan dengan rekayasa sendiri-sendiri, oleh karena itu Allah memerintahkan kita dengan firmannya:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kamu dengan tali (agama) Allah, dan jangan sekali-kali kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imran: 103)
Sebagaimana Allah juga memerintahkan agar tidak bercerai berai dan saling berselisih, karena perselisihan itu adalah sumber petaka, di dunia dan akhirat, dan sebab terjadinya kekalahan ketika menghadapi musuh. Allah ta’ala berfirman:
وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِن بَعْدِ مَاجَآءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلاَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمُ يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهُُ وَتَسْوَدُّ وُجُوهُ
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang kepada mereka keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri dan ada pula muka yang hitam muram.” (QS. Ali Imran: 104-105)
Dan bila kita bertanya: Apakah tolok ukur persatuan dan kesatuan menurut Allah dan Rasul-Nya?
Untuk mengetahui jawaban pertanyaan cerdas ini, maka marilah kita merenungkan firman Allah berikut:
وَأَطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ وَلاَتَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu saling berselisih, sehingga kamu menemui kegagalan dan hilanglah kekuatanmu.” (QS. Al Anfaal: 46)
Amatilah, pada ayat ini Allah ta’ala menjadikan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya sebagi lawan dari perselisihan, dan perselisihan/perbedaan adalah sumber/biang kerok bagi kelemahan dan hilangnya kekuatan umat islam.
Dan sudah barang tentu, kita semua sadar bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya hanyalah akan terealisasi, bila kita benar-benar mengamalkan Al Quran dan As Sunnah, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sahabatnya dan ulama’ terdahulu (salafus sholeh). Dan sudah barang tentu ini semua tidak akan dapat terealisasi tanpa adanya ilmu.
Wasiat dari Allah ini juga ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau berikut:
لا تختلفوا فإن من كان قبلكم اختلفوا فهلكوا
“Janganlah kamu saling berselisih, karena umat sebelummu telah berselisih, sehingga mereka binasa/ runtuh.” (HSR Muslim)
Inilah sumber permasalahan, dan inilah sumber kelemahan yang harus segera dibenahi dan diperangi, yaitu adanya berbagai penyelewengan dari ajaran Al Quran dan As Sunnah. Inilah sebab terjadinya kemunduran sekaligus kekalahan umat islam dari selain mereka dalam berbagai aspek kehidupan. Umat Islam mundur dan kalah bukanlah karena kekurangan pengikut, atau kalah dalam hal teknologi atau persenjataan. Akan tetapi sebab utamanya ialah apa yang telah saya jabarkan di atas, yaitu umat islam pada zaman ini berusaha mencari kemuliaan dari selain jalan Alloh dan Rasul-Nya, dan mencampakkan jauh-jauh syariat yang telah diajarkan dalam Al Quran dan As Sunnah.
Saya harap akhuna Suripan sudi menjawab pertanyaan saya berikut: Apakah yang dapat dipetik oleh umat islam sekarang ini dari kemajuan Pakistan & Iran dalam hal persenjataan nuklir yang telah mereka miliki? Bukankah antum tahu bahwa banyak dari umat islam yang telah berhasil mencapai kemajuan dalam berbagai IPTEK, memiliki kekayaan yang melimpah ruah, akan tetapi apa yang dapat dirasakan oleh umat islam dari berbagai kemajuan dan kekayaan mereka?
Ini semua membuktikan kebenaran sabda Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam berikut:
يوشك الأمم أن تداعى عليكم كما تداعى الأكلة إلى قصعتها. فقال قائل: ومن قلة نحن يومئذ؟ قال: بل أنتم يومئذ كثير ولكنكم غثاء كغثاء السيل، ولينزعن الله من صدور عدوكم المهابة منكم وليقذفن الله في قلوبكم الوهن. فقال قائل يا رسول الله وما الوهن: قال حب الدنيا وكراهية الموت. رواه أحمد وأبو داود وصححه الألباني
“Sebentar lagi berbagai umat akan bersekongkol untuk menindas/menggerogoti (mengeroyok) kalian, sebagaimana para pemakan akan ramai-ramai menyantap hidangan mereka. Maka ada salah seorang sahabat yang berkata: Apakah hal itu terjadi karena jumlah kami sedikit? Beliau menjawab: Bahkan kalian kala itu berjumlah banyak, akan tetapi kalian buih (lemah) bak buih air bah, dan sungguh-sungguh Allah akan mencabut dari dada musuh-musuh kalian rasa segan terhadap kalian, dan Allah benar-benar akan mencampakkan ke dalam hati kalian rasa wahan (lemah). Maka ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan wahn? Beliau menjawab: Rasa cinta terhadap dunia dan takut akan kematian.” (HRS Ahmad dan Abu Dawud, dan disahihkan oleh Al Albani)
Inilah sumber permasalahan dan inti problematika umat pada zaman ini. Oleh karena itu marilah kita semua kembali kepada ajaran agama, dengan menimba ilmu agama sebanyak-banyaknya dan berupaya menghidupkannya dalam diri kita, keluarga, masyarakat kita. Tentunya semua ini harus dengan metode yang bijak, penuh dengan hikmah, lembut dan dengan tidak terburu-buru ingin segera memetik hasil dalam sekejap mata, bak membalikkan telapak tangan. Karena bila kita terburu-buru, niscaya yang akan terjadi adalah kekecewaan dan kegagalan yang pasti, seperti dalam pepatah:
من استعجل الشيء قبل أوانه عوقب بحرمانه
“Barang siapa yang tergesa-gesa ingin memetik sesuatu sebelum saatnya, niscaya ia akan dihukumi dengan kegagalan mendapatkannya.”
Dan ini pula yang sekarang kita lihat di negeri kita: Orang-orang yang ingin menegakkan syariat islam dengan cara pengeboman, mereka hanya mendatangkan petaka dan permasalahan bagi umat, setiap yang berusaha menjalankan syariat agama islam sekarang malah dicurigai sebagai anggota teroris, dst.
Begitu juga kelompok lainnya, yang menempuh jalan demokrasi, dan membentuk partai dan hanyut dalam kehidupan berpolitik, semua ini dengan alasan ingin segera mengubah sistem dan menerapkan syariat islam sesegera mungkin. Akan tetapi apa yang terjadi, mereka malah ikut andil dalam mengesahkan berbagai undang-undang yang menyelisihi syariat, dan ikut melakukan berbagai amalan yang jelas-jelas diharamkan dalam syariat. Dan yang lebih ironis, seruan untuk menerapkan syariat sekarang ini telah hilang dan sirna 100 % dari pembicaraan mereka, setelah kebagian jabatan dan mendapatkan jatah kursi dst. La haula wala quwwata illa billah.
Hendaknya kita sadar dan mengamati, dan janganlah kita menutup mata dari fenomena yang ada di lapangan, hanya sekedar terbuai oleh cita-cita dan slogan-slogan kosong mlompong, bagaikan mimpi di siang bolong.
Hendaknya kisah yang disebutkan oleh ulama’ ahli sirah Nabi berikut ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua:
“Tatkala pasukan orang-orang Quraisy telah menghadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beserta kaum muslimin, dan kemudian terjadi negosiasi antara kedua belah pihak, di antara tawaran yang ditawarkan oleh orang-orang Quraisy kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ialah tawaran yang disampaikan oleh ‘Utbah bin Rabi’ah:
يا ابن أخي إن كنت إنما تريد بما جئت به من هذا الأمر مالا جمعنا لك من أموالنا حتى تكون أكثرنا مالا وإن كنت تريد به شرفا سودناك علينا حتى لا نقطع أمرا دونك وإن كنت تريد به ملكا ملكناك علينا وإن كان هذا الذي يأتيك رئيا تراه لا تستيطع رده عن نفسك طلبنا لك رآق وبذلنا فيه أموالنا حتى نبرئك منه
“Wahai keponakanku, bila yang engkau kehendaki dari apa yang engkau lakukan ini adalah karena ingin harta benda, maka akan kami kumpulkan untukmu seluruh harta orang-orang Quraisy, sehingga engkau menjadi orang paling kaya dari kami, dan bila yang engkau kehendaki ialah kedudukan, maka akan kami jadikan engkau sebagai pemimpin kami, hingga kami tidak akan pernah memutuskan suatu hal melainkan atas perintahmu, dan bila engkau menghendaki menjadi raja, maka akan kami jadikan engkau sebagai raja kami, dan bila yang menimpamu adalah penyakit (kesurupan jin) dan engkau tidak mampu untuk mengusirnya, maka akan kami carikan seorang dukun, dan akan kami gunakan seluruh harta kami untuk membiayainya hingga engkau sembuh.” (Sirah Ibnu Hisyam 2/131, Dan Dalail An Nubuwah oleh Al Asbahani 1/194, dan kisah ini dihasankan oleh Syeikh Al Albani dalam Fiqhus Sirah)
Mendengar tawaran yang demikian ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lantas menerima salah satu tawarannya yang berupa tawaran menjadi raja/pemimpin –sebagaimana yang diteorikan oleh banyak harokah islamiyyah zaman sekarang- agar dapat memimpin dan kemudian baru akan mengadakan perubahan undang-undang dst. Nabi tetap meneruskan perjuangannya membentuk tatanan masyarakat muslim yang berakidahkan aqidah islam/tauhid dan berakhlakkan dengan akhlak islamiah. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab tawaran orang ini dengan membacakan surat Fushshilat, yang intinya menyebutkan maksud diturunkannya Al Quran, yaitu guna mendakwahi manusia agar beribadah hanya kepada Allah Ta’ala.
Inilah metode penegakan khilafah islamiyyah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu membina generasi islam yang benar-benar islam dan bersih dari berbagai noda kesyirikan dan bid’ah/penyelewengan dalam hal ibadah atau lainnya.
Akhi Suripan berkata:
Namun akhir-akhir ini saya jadi bertanya-tanya atas sikap saudara-saudara Salafiyin yang menggunakan kelihaian hujjahnya, dengan mengatasnamakan menjaga kemurnian aqidah mengarahkan mata pedangnya kesesama muslim, dan hal ini sungguh dilakukan dengan tanpa rasa sungkan dan malu, bahkan seakan mereka tidak berfikir bahwa disamping kanan kiri banyak kaum kuffar yang melihatnya.hal ini tidak dapat dipungkiri karena kita jumpai di internet di website-website Salafy sangat banyak kita jumpai hal-hal tersebut sebagai contoh seperti yang turut saya lampirkan di atas. Website Salafy tumbuh bak jamur di musim hujan, sebenarnya itu hal sangat baik sebagai wasilah da’wah, namun bila kita lihat, kita baca dan kita amat-amati secara mendalam disana akan kita dapati bahwa mata pedang kaum salafy hari ini tidak diarahkan kepada musuh-musuh Alloh namun sebaliknya malah diarahkan kepada kaum muslimin yang lain khususnya gerakan-gerakan Islam, dan tidak perlu saya sebutkan nama gerakan tersebut disini karena semua orang tahu hal itu. Saudaraku salafiyin yang saya cintai karena Alloh, dari tulisan-tulisan yang saya dapat di website Salafy dan dari diskusi serta dari bertanya kepada orang-orang salafy bahwa saudara-saudara punya cita-cita besar yaitu tegaknya Khilafah Islamiyah, bahkan politikpun diharamkan sebelum tegaknya Khilafah Islamiah. Saudara-saudaraku ini adalah pekerjaan besar dan bukan pekerjaan sederhana, itu perlu persiapan dengan melibatkan seluruh komponen ummat Islam bukan Yahudi, Nasrani dan Musyrikin, tetapi ummat Islam, mengapa? Karena ummat Islamlah yang akan menjadi subjek (pelaku) dari kheKhilafahan tersebut, sedang di luar itu mereka harus tunduk kalau memang mereka sudah ummat Islam tundukkan, nah berangkat dari sini izinkan saya mengkritisi apa yang sudah saudara-saudara lakukan saat ini…
Saya rasa, pada penggalan ucapan akhuna Suripan diatas kita dapat pahami bahwa akhuna Suripan juga menunjukkan sikap jujur yang patut dipuji, yaitu akhuna mengakui bahwa di tengah-tengah umat islam terjadi perbedaan atau dengan lebih tegas nan lugas: terjadi perpecahan. Perpecahan yang oleh akhuna disebut dengan kata-kata lembut, yaitu “gerakan-gerakan Islam” Hal ini adalah pengakuan yang patut diacungi jempol, sebab –Insya Allah- pengakuan ini akan membimbing akhuna kepada kebenaran.
Terjadinya perpecahan dan perselisihan ini jauh-jauh hari telah dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya. Beliau mengabarkan fenomena ini, bukan dalam rangka berbangga-banga dengan keanekaragaman alur dan manhaj yang akan muncul di tengah-tengah umatnya, akan tetapi beliau mengabarkannya dalam rangka memperingatkan umatnya dari keanekaragaman tersebut. Cermatilah hadits berikut:

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال قال رسول الله : لتتبعن سنن الذين من قبلكم شبرا بشبر وذراعا بذراع حتى لو دخلوا في حجر ضب لاتبعتموهم. قلنا: يا رسول الله: آليهود والنصارى؟ قال: فمن؟!
“Dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sunguh-sungguh kamu akan mengikuti/mencontoh tradisi orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk ke dalam lubang dhob, niscaya kamu akan meniru/mencontoh mereka.’ Kami pun bertanya: ‘Apakah (yang engkau maksud adalah) kaum Yahudi dan Nasrani?’ Beliau menjawab: ‘Siapa lagi?’” (HRS Muttafaqun ‘Alaih)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- berkata: “Beliau mengabarkan bahwa akan ada dari umatnya orang-orang yang meniru orang-orang Yahudi dan Nasrani, yang mereka adalah ahlul kitab, dan diantara mereka ada yang meniru bangsa Persia dan Romawi, yang keduanya adalah orang-orang non arab.” (Iqtidlo’ Sirathol Mustaqim 6)
Pada hadits lain beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : تفرقت اليهود على إحدى وسبعين أو اثنتين وسبعين فرقة والنصارى مثل ذلك وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة
“Dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Umat Yahudi telah berpecah belah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan, dan umat nasrani berpecah belah seperti itu pula, sedangkan umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan.” (HRS Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al Hakim, Ibnu Abi ‘Ashim, dan disahihkan oleh Al Albani)
Inilah fenomena yang sedang terjadi di masyarakat kita sekarang, umat Islam benar-benar telah terpecah belah menjadi berbagai kelompok, dan setiap kelompok memiliki metode dan manhaj tersendiri. Nah, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengabarkan fenomena ini bukan dalam rangka menceritakan kenikmatan yang akan didapatkan oleh umatnya, akan tetapi dalam rangka memperingatkan mereka dari petakan ini. Oleh karena itu dalam hadits lain beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat kepada umatnya agar senantiasa meniti manhaj yang beliau ajarkan dan meninggalkan berbagai manhaj dan golongan/gerakan lainnya yang tidak menerapkan manhaj beliau. Simaklah wasiat beliau ini:
الزم جماعة المسلمين وإمامهم. قلت: فإن لم يكن لهم جماعة ولا إمام؟ قال: فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض بأصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك.
“Berpegang teguhlah engkau dengan jama’atul muslimin dan pemimpin (imam/kholifah) mereka. Aku pun bertanya: ‘Seandainya tidak ada jama’atul muslimin, juga tidak ada pemimpin (imam/kholifah)?’ Beliau pun menjawab: ‘Tinggalkanlah seluruh kelompok-kelompok tersebut, walaupun engkau harus menggigit batang pepohonan, hingga datang ajalmu, dan engkau dalam keadaan demikian itu.’” (HRS Al Bukhory dan Muslim).
Pendek kata, upaya menikam dan meruntuhkan berbagai gerakan dan manhaj yang tidak sesuai dengan manhaj Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah metode berdakwah dan beragama yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan diwasiatkan oleh beliau kepada umatnya. Dan sebagai salah satu buktinya amatilah hadits berikut:
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : (إن من ضئضيء هذا قوما يقرأون القرآن لا يجاوز حناجرهم يقتلون أهل الإسلام ويدعون أهل الأوثان يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرمية لئن أدركتهم لأقتلنهم قتل عاد) متفق عليه
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya dari tulang rusuk orang ini akan lahir suatu kaum yang mereka membaca Al Quran akan tetapi bacaannya tidak dapat melewati tenggorokannya (mereka tidak memahami apa yang mereka baca), mereka membunuhi kaum muslimin, dan membiarkan para penyembah berhala, mereka akan keluar dari Islam, layaknya anak panah yang keluar dan menembus binatang buruan. Seandainya aku menemui mereka, niscaya akan aku membunuh mereka hingga habis, layaknya kaum ‘Ad dibinasakan hingga habis.’” (Muttafaqun ‘alaih)
Ya Akhi Suripan, untuk sedikit membuktikan kepada antum, bahwa sebenarnya gerakan-gerakan islam yang tidak sesuai dengan manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berdakwah dan beragama, maka hendaknya antum baca sejarah berikut ini:
Tatkala kaum muslimin telah berhasil menggulingkan dua negara adi daya kala itu (Persia dan Romawi), dan tidak ada lagi kekuatan musuh yang mampu menghadang laju perluasan dan penebaran agama Islam, mulailah musuh-musuh Islam menyusup dan menebarkan isu-isu bohong, guna menimbulkan perpecahan di tengah-tengah umat Islam. Dan ternyata mereka berhasil menjalankan tipu muslihat mereka ini, sehingga timbullah fitnah pada zaman Khalifah Usman bin Affan, yang berbuntut terbunuhnya sang Khalifah, dan berkepanjangan dengan timbulnya perang saudara antara sahabat Ali bin Abi Tholib dengan sahabat Mu’awiyyah bin Abi Sufyan. (Untuk lebih lengkapnya, silakan baca buku-buku sejarah dan tarikh, seperti: Al Bidayah Wa An Nihayah, oleh Ibnu Katsir, dll).
Bukankah runtuhnya khilafah Umawiyyah, akibat pemberontakan yang dilakukan oleh Bani Abbasiyyah, demi memperebutkan kekuasaan? Berapa banyak jumlah kaum muslimin yang tertumpahkan darahnya akibat pemberontakan tersebut?!
Bukankah jatuhnya kota Baghdad ke tangan orang-orang Tartar pada tahun 656 H akibat pengkhianatan seorang Syi’ah yang bernama Al Wazir Muhammad bin Ahmad Al ‘Alqamy? Pengkhianatan ini ia lakukan tatkala ia menjabat sebagai Wazir (perdana menteri) pada zaman Khalifah Al Musta’shim Billah, ia berusaha mengurangi jumlah pasukan khilafah, dari seratus ribu pasukan, hingga menjadi sepuluh ribu pasukan. Dan dia pulalah yang membujuk orang-orang Tatar agar membunuh sang Kholifah beserta keluarganya. (Baca kisah selengkapnya di kitab Al Bidayah wa An Nihayah oleh Ibnu Katsir jilid 13).
Sepanjang sejarah, tidak ada orang Yahudi atau Nasrani yang berani menyentuh kehormatan Ka’bah, apalagi sampai merusaknya. Akan tetapi kejahatan ini pernah dilakukan oleh satu kelompok yang mengaku sebagai umat Islam, yaitu oleh (Qaramithoh) salah satu sekte aliran kebatinan. Pada tanggal 8 Dzul Hijjah tahun 317 H, mereka menyerbu kota Mekkah, dan membantai beribu-ribu jamaah haji, dan kemudian membuang mayat-mayat mereka ke dalam sumur zamzam. Ditambah lagi mereka memukul hajar Aswad hingga terbelah, dan kemudian mencongkelnya dan dibawa pulang ke negeri mereka; Hajer di daerah Bahrain. (Untuk lebih lengkap, silakan simak kisah kejahatan mereka di Al Bidayah wa An Nihayah 11/171).
Perlu diketahui, bahwa kelompok Qoromithoh ini adalah kepanjangan tangan dari kelompok fathimiyyah, yang merupakan salah satu sempalan dari sekte Syi’ah, dan mereka pernah menguasai negri Mesir selama satu abad lamanya. (Untuk lebih mengenal tentang siapa itu Qoromithoh, silahkan baca kitab: Al Aqoid Al Bathiniyyah wa Hukmul Islam Fiha, oleh Dr. Shobir Thu’aimah).
Oleh karena itu dalam memperjuangkan Islam, hendaknya kita tidak melupakah sejarah kita sendiri, dan hendaknya kita menggali pelajaran dan hikmah dari sejarah kita sendiri, sehingga kita tidak mengulang kegagalan, dan berhasil mengembalikan kejayaan umat yang telah hilang. Akhuna Suripan camkanlah perkataan Imam Malik berikut:
لن يصلح آخر هذه الأمة إلا ما أصلح أولها
“Tidaklah mungkin akan dapat membaguskan urusan generasi akhir umat ini kecuali hal yang telah membaguskan urusan generasi pendahulu mereka.”
Dan saya rasa akhuna Suripan juga tahu bahwa Islam mengajarkan prinsip amar ma’ruf nahi mungkar, dan bahwasanya prinsip ini memiliki tiga tahapan, yaitu (1) Ingkar dengan hati, dengan membenci amalan mungkar tersebut, (2) Ingkar dengan lisan, yaitu dengan menjelaskan bahwa amalan itu mungkar dan haram, (3): Ingkar dengan kekuatan:
من رأى من منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه.
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya (kekuatannya), jika tidak bisa, maka dengan lisannya dan bila tidak bisa maka dengan hatinya.” (HR. Muslim)
Dan apa yang antum sesali dari manhaj salaf, yaitu membongkar kesesatan dan kesalahan pelaku kesesatan dan kesalahan, dan memperingatkan umat masyarakat dari perbuatan tersebut adalah bagian dari ingkar al mungkar.
Sudah barang tentu syariat amar ma’ruf nahi mungkar ini dan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya di saat menghadapi perpecahan yang telah saya nukilkan di atas, sangat bertentangan dengan metode yang didengung-dengungkan oleh sebagian orang, yaitu metode yang dikenal dalam bahasa Arab:
نتعاون فيما اتفقنا ويعذر بعضنا بعضا فيما اختلفنا
“Kita saling bekerja-sama dalam hal persamaan kita, dan saling toleransi dalam segala perbedaan kita.”
Sepintas metode ini bagus sekali, akan tetapi bila kita sedikit berpikir saja, niscaya kita akan terkejut, terlebih-lebih bila kita memperhatikan fenomena penerapannya. Hal ini dikarenakan metode ini terlalu luas dan tidak ada batasannya, sehingga konsekuensinya kita harus toleransi kepada setiap orang, dengan berbagai aliran dan pemahamannya, karena setiap kelompok dan aliran yang ada di agama islam, syi’ah, jahmiyah, qadariyah, ahmadiyah, JIL (Jaringan Islam Liberal) dan lain-lain memiliki persamaan dengan kita, yaitu sama-sama mengaku sebagai kaum muslimin. Bahkan seluruh umat manusia pasti memiliki persamaan dengan kita, minimal persamaan dalam hal menentang praktek kanibalisme, yaitu memakan daging manusia. Kalau demikian lantas akan ke mana kita menyembunyikan prinsip-prinsip akidah kita, dan negara islam model apakah yang hendak didirikan?!
Akhuna Suripan berkata:
Kalau cita-cita mulia itu ingin saudara Salafiyin wujudkan dengan menikamkan mata pedang saudara ke dada-dada kaum muslimin yang lain, hingga mereka tersungkur tidak berdaya, lalu kepada siapa syariat Islam itu akan diimplementasikan/diterapkan? Mungkin saudara-saudara akan katakan kepada kaum muslimin yang seaqidah dengan aqidah Salafy, kalau demikian saudara-saudara sudah menganggap saudara-saudara muslim yang lain itu kafir dst. Kalau demikian adanya maka Fiqud Da’wah yang saudara-saudara terapkan perlu diulang kaji.Tidak layak seorang Muslim yang katanya mengikuti manhaj Salaf tapi berlaku berlawanan dengan manhaj Salaf itu sendiri yaitu menghujat, mencela dan memberikan gelar-gelar yang tidak baik ke sesama muslim dimuka umum (website). Bukankah demikian pendapat-pendapat saudara dalam mengingatkan seorang penguasa, harusnya juga berlaku kepada sesama saudara muslim. Saudara-saudaraku, orang-orang yang dihatinya ada penyakit, yang mereka benci kepada Islam (kaum kuffar) akan bersorak sorai melihat apa yang saudara-saudara lakukan tersebut, maka selayaknya mata pedang saudara-saudara arahkanlah kepada kaum kuffar, dan dekatilah saudara sesama muslim dengan pendekatan kasih sayang yang tulus, Insya Alloh, Alloh akan membukakan pintu kemenangan kepada kaum muslimin.
Waah, kayaknya akhuna suripan tidak pernah membaca sejarah islam, dan asal usul berbagai sekte atau firqah yang ada di masyarakat sekarang ini. Agar Akhuna Suripan dapat menyadari bahwa ucapannya di atas amat tidak realistis, maka hendaknya membaca sejarah islam, sehingga akhuna tahu bahwa semenjak dahulu kala, para sahabat, tabi’in, dan ulama’ salaf setelah mereka senantiasa memerangi sekte-sekte/firqah-firqah yang menyelisihi aqidah ahlis sunnah. Walau demikian negara Islam (Khilafah Islamiyyah) masih bisa berjalan dengan baik, dan hukum islam tetap diterapkan. Bahkan diantara penerapan hukum islam ialah dengan memerangi bid’ah dan para pelakunya. Sebagai bukti: Sahabat Ali mengadakan/mengobarkan peperangan melawan sekte (firqah) khawarij yang mereka itu adalah nenek moyang orang-orang yang dengan enteng mengkafirkan selain golongannya, terutama para penguasa, sehingga mereka mengkafirkan sahabat Ali beserta seluruh orang yang taat dan mengakui kekhilafahannya, dan juga mengkafirkan saabat Mu’awiyyah dan seluruh orang yang mendukungnya. Peperangan antara mereka terjadi di daerah yang disebut di Nahrawan, sebagaimana dikisahkan/diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no: 3414) & Muslim (no: 1066).
Bukankah khowarij adalah kaum muslimin? Akan tetapi mengapa sahabat Ali Memerangi mereka? Apakah sahabat Ali hanya ingin menerapkan/menjadikan pengikutnya saja sebagai obyek kekhilafahannya? Ataukah Ali telah mengkafirkan mereka? Agar akhuna Suripan tahu dengan benar alasan sahabat Ali memerangi mereka, maka simaklah riwayat berikut:
لما قتل علي رضي الله عنه الحرورية قالوا: من هؤلاء يا أمير المؤمنين أكفار هم؟ قال: من الكفر فروا. قيل: فمنافقين؟ قال: إن المنافقين لا يذكرون الله إلا قليلا، وهؤلاء يذكرون الله كثيرا. قيل: فما هم؟ قال: قوم أصابتهم فتنة فعموا فيها. رواه عبد الرزاق 10/150 ومحمد بن نصر المروزي في تعظيم قدر الصلاة 2/543.
“Tatkala Ali radiallahu ‘anhu telah selesai memerangi orang-orang haruriyyah (khawarij), sebagian pasukannya bertanya: ‘Siapakah sebenarnya mereka itu wahai Amirul Mukminin, apakah mereka itu orang-orang kafir?’ Ia menjawab: ‘Mereka itu melarikan diri dari kekufuran.’ Ditanya lagi: ‘Kalau begitu apakah mereka itu orang-orang munafik?’ Ia menjawab: ‘Sesungguhnya orang-orang munafik tidaklah mengingat Allah selain sedikit sekali, sedangkan mereka itu banyak mengingat Allah.’ Ditanya lagi: ‘Lalu siapakah sebenarnya mereka itu?’ Ia menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang tertimpa fitnah (kesesatan) hingga mereka buta mata karenanya.’” (Riwayat Abdurrazzaq 10/150, dan Muhammad bin nasher Al Marwazi dalam kitab Ta’zhim Qadr As Shalah, 2/543).
Akhuna Suripan, cermatilah baik-baik kisah ini, niscaya antum akan sadar bahwa orang-orang khawarij yang suka mengkafirkan selain kelompok mereka, seperti yang dilakukan oleh kelompok (baca: sekte: LDII, JI dll) layak untuk dijauhi dan dibeberkan kesesatannya di hadapan umat, bahkan kalau perlu diperangi seperti yang pernah dilakukan oleh kholifah sekaligus menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu khalifah Ali bin Abi Thalib.
Bahkan, sahabat Ali bukan hanya melakukan peperangan terhadap sekte khawarij saja, bahkan kepada sekte yang mengkultuskan beliau pun, yaitu yang terkenal dengan sebutan sekte Syi’ah, sahabat Ali juga mengadakan peperangan, bukan hanya peperangan, bahkan malah dihukumi dengan dibakar hidup-hidup, sebagaimana yang dikisahkan dalam kitab Al Bad’u wa At Tarikh 5/125.
Kemudian berbagai kitab dan karya ilmiyyah yang ditulis oleh para ulama’ semenjak zaman dahulu hingga sekarang, yang menjelaskan dan membongkar kesesatan sekte-sekte yang ada di masyarakat, adalah salah satu bukti bahwa diantara metode dakwah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabatnya ialah menepis segala kesesatan dengan segala sarana yang kita miliki. Bukan malah berupaya menutup-nutupi kesesatan mereka, karena sesungguhnya pertolongan Allah, dan kemenangan umat islam tidak akan pernah datang selama umat islam tercerai berai oleh bid’ah dan kesesatan. Umat Islam akan jaya bila mereka benar-benar memurnikan agama mereka selaras dengan Al Qur’an dan As Sunnah.
الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمناهم بظلم ألئك لهم الأمن وهم مهتدون
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’am: 82)
Dan janji berikutnya:
ولو أن أهل القرى آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض ولكن كذبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبون
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raf: 96)
وعد الله الذين آمنوا وعملوا الصالحات ليستخلفنهم في الأرض كما استخلف الذين من قبلهم وليمكننهم دينهم الذي ارتضى لهم وليبدلنهم من بعد خوفهم أمنا يعبدونني لا يشركون بي شيئا ومن كفر بعد ذلك فأولئك هم الفاسقون
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menggantikan (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam keadaan ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada menyekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa yang kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasiq.” (QS. An Nur: 55)
Dan juga firman-Nya:
يأيها الذين آمنوا إن تنصروا الله ينصركم ويثبت أقدامكم
“Hai, orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Alloh, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)
Jadi jangan takut kalah oleh musuh bila kita benar-benar telah memurnikan iman dan amal shaleh kita sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Adapun ucapan antum bahwa ikhwah salafiyyin yang membeberkan kesesatan sekte-sekte yang ada di masyarakat berarti mereka telah menganggap kafir sekte-sekte tersebut, adalah suatu tuduhan yang tanpa dasar, sebab menyebutkan kesalahan, bahkan memerangi tidak relevan dengan mengkafirkan, sebagai salah satu buktinya adalah ucapan dan penjelasan sahabat Ali di atas. Dan perlu antum ketahui bahwa manhaj salaf mengenal perbedaan antara mengklaim kafir pelaku dosa dengan menyatakan bahwa perbuatan dosa itu adalah kekufuran, sebab tidak setiap pelaku kekufuran itu kafir. Oleh karena itu manhaj ahlus sunnah mengajarkan adanya iqamatul hujjah dan izalatus syubhat.
Dan pada kesempatan ini saya anjurkan akhuna suripan untuk mengkaji permasalahan ini, yaitu iqamatul hujjah dan izalatus syubhat menurut pemahaman salaf, dan silahkan antum bertanya kepada salah seorang ustadz salafi yang antum kenal, semoga antum dapat membedakan antara mengklaim kafir pelaku kekufuran dengan mengklaim kafir perbuatan kekufuran.
Kemudian dalam hal mengingkari kemungkaran, memang Ahlis Sunnah membedakan antara mengingkari kemungkaran yang dilakukan oleh pemerintah dengan yang dilakukan oleh masyarakat biasa. Walau demikian, ahlus sunnah juga tetap mengajarkan bahwa selama kemungkaran dapat diingkari dan ditanggulangi tanpa menyebutkan nama pelakunya, maka itulah yang harus dilakukan, akan tetapi bila tidak mungkin, atau telah terlanjur menyebar dimasyarakat, maka melindungi agama masyarakat banyak lebih didahulukan dibanding menjaga kehormatan satu orang atau satu kelompok tertentu. Akan tetapi bila kesalahan itu dilakukan oleh pemerintah atau penguasa, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita agar pengingkarannya dilakukan dengan cara tersembunyi, dan tidak dibeberkan dihapan khalayak ramai, demi menjaga kemaslahatan umum dan agar tidak menimbulkan fitnah yang lebih besar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
من أراد أن ينصح لذي سلطان في أمر فلا يبده علانية ولكن ليأخذ بيده فيخلو به فإن قبل منه فذاك وإلا كان قد أدى الذي عليه. رواه ابن أبي عاصم وصححه الألباني
“Barang siapa yang hendak menasehati seorang penguasa dalam suatu urusan, maka janganlah disampaikan di depan khalayak ramai, akan tetapi hendaknya ia sampaikan di saat ia menyendiri dengannya, dan bila ia menerima nasehatnya, maka itulah yang diinginkan, dan bila tidak menerima, maka ia telah menunaikan kewajibannya.” (Riwayat Ibnu Abi ‘Ashim, dan dishahihkan oleh Al Albani)
Bila akhuna Suripan merasa terusik oleh sikap ikhwah salafiyyin yang mengkritik kesesatan sekte-sekte berbagai tokoh firqoh yang ada, maka ini pulalah yang akan dilakukan oleh para pemimpin/penguasa yaitu akan marah dan tersinggung. Akan tetapi antara kemarahan penguasa dengan sekte-sekte yang ada terdapat perbedaan, yaitu bila yang marah adalah pemerintah, maka akan terjadi kerusakan yang luas, sedangkan bila yang marah adalah ketua sekte/firqah, maka mereka tidak dapat berbuat apa-apa, selain menelan ludah pait (terlebih-lebih bila supremasi pemerintah tegak dan kuat). Selain itu bila kesalahan pemerintah diungkit-ungkit di khalayak ramai, maka akan merusak kepatuhan masyarakat kepada pemerintah, dan menjadikan para penjahat semakin berani melancarkan kejahatannya, bukankah antum sudah merasakan sendiri perbedaan yang terjadi di masyarakat kita Indonesia antara masa Suharto ORBA dengan berbagai kejahatannya, dengan masa Reformasi? Keamanan hilang, harga bahan pangan menjadi mahal, kejahatan dan kemaksiatan semakin merajalela, dst. Ini semua sebagian dari dampak buruk sikap mengkritik/menyebarkan kesalahan penguasa di khalayak ramai.
Akhuna Suripan berkata:
Dalam mensikapi keadaan yang demikian cepatnya berobah, saudara-saudara Salafiyin tidak perlu panik, tenanglah dan bermohonlah kepada Alloh, bermusyawarahlah untuk mengambil langkah-langkah yang terbaik, hingga langkah-langkah yang saudara-saudara ambil akan bermanfaat kepada saudara-saudara dan kaum muslimin umumnya, dan tidak sebaliknya menjadi bumerang bagi saudara-saudara dan kaum muslimin itu sendiri. Tidak usah buru-buru menimpakan suatu keburukan kepada sesama gerakan muslim lain hanya karena ingin selamat dari tudingan orang-orang yang tidak senang kepada Islam. Lalu membuat tulisan-tulisan di muka umum (website) dengan menghujat salah satu gerakan Islam, padahal itu bisa menelanjangi saudara-saudara sendiri. Contoh hal seperti apa yang tertulis di website Salafy yang turut saya lampirkan ini. Bagaimana kok bisa dikatakan menelanjangi saudara-saudara sendiri? Izinkan saya menguraikanya.
Kata Presiden kami SBY Kata-kata di atas itu bisa diartikan bahwa saudara-saudara itu mengakui dan turut memiliki Presiden tersebut, dan seakan-akan keberadaan Presiden tersebut itu ada berkat kerja keras saudara-saudara pada saat pemilu yang lalu, karena mekanisme pemilihan Presiden dilakukan melalui Pemilu, padahal saudara-saudara adalah kelompok orang-orang yang menyakini dan memfatwakan bahwa Pemilu (Demokrasi) itu haram sehingga saudara-saudara Salafiyin pada saat itu tidak ada yang turut mencoblos, alias Golput. Nah sekarang kok ujuk-ujuk dengan merasa tidak bersalah mengatakan Presiden kami Susilo bambang Yudoyono, kalau saya tidak salah yang mendukum pencalonan SBY-Kala itu kan PKS dan PD, inikan lucu? Mungkin saudara-saudara akan memberi hujjah, boleh melakukan hal itu bila dalam keadaan darurat, setahu saya belum ada pernayataan pemerintah yang menyudutkan saudara-saudara? Mbok ya mohon kepada Alloh semoga Alloh melindungi saudara-saudara. Dan tidak perlu disembunyi-sembunyikan akan jati diri saudara-saudara, bahwa saudara-saudara Salafiyin itu di mata musuh-musuh Alloh adalah penganut Islam garis keras (Islam Fundamentalis) karena menurut mereka orang-orang/kelompok atau apalah itu namanya kalau yang tidak mengakui Demokrasi maka mereka adalah musuh. Apa lagi? Sedang saudara-saudara sudah jelas-jelas mengharamkan Demokrasi, jelas di mata mereka adalah musuh laten.
Aduuh, akhuna Suripan, mbok yo jangan buru-buru menyalahkan suatu pendapat yang antum belum tahu dasar dan dalil-dalilnya. Dan menurut hemat saya, akhuna Suripan benar-benar kurang membaca sejarah Islam. Untuk sedikit membuktikan ucapan ini, saya harap Akhuna Suripan membaca sejarah berdirinya khilafah Umawiyyah, Abbasiyyah, Utsmaniyyah. Ketiga dinasti (baca: khilafah) islam ini dimulai dengan kesalahan, yaitu menentang dan melawan khalifah yang sah. Khilafah Umawiyyah dimulai dari perlawanan sahabat Mu’awiyyah terhadap khalifah yang sah yaitu sahabat Ali bin Abi Thalib, dan setelah melalui berbagai kejadian sejarah, akhirnya terjadilah penyerahan kekuasaan oleh sahabat Hasan bin Ali bin Abi Thalib kepada sahabat Mu’awiyyah. Khilafah Abbasiyyah dimulai dari pemberontakan besar-besaran yang dilakukan oleh Bani Abbasiyyah melawan khilafah yang sah, yaitu khilafah bani Umawiyyah, dan akibat pemberontakan ini tertumpahlah ratusan ribu jiwa umat islam. Begitu juga halnya dengan khilafah Utsmaniyyah.
Walau proses perebutan kekuasaan ini telah disepakati oleh ulama’ sebagai tindakan yang diharamkan, dan pelakunya berdosa karenanya, akan tetapi bila kekuasaan berhasil direbut, dan para pemberontak berhasil menata kekhilafahan sehingga terciptalah stabilitas keamanan, kekuatan, perekonomian dll, maka umat islam semenjak dahulu telah sepakat untuk mengakui khalifah hasil pemberontakan tersebut. Jadi bisa jadi metode perebutan kekuasaan diharamkan, akan tetapi bila telah berhasil direbut dan yang merebutnya memiliki kemampuan untuk menjalankan khilafah, maka umat islam seluruhnya diwajibkan untuk mengakui khalifah tersebut, dan khalifah tersebut menjadi khalifah yang sah dan wajib ditaati.
Oleh karena itu tidak pernah ada seorang ulama’-pun yang menyatakan bahwa khilafah Abbasiyah tidak sah, dan wajib digulingkan, walaupun semua orang tahu bahwa mereka dapat sampai kepada kekuasaan/khilafah dengan cara yang diharamkan. Bukankah demikian sejarahnya wahai akhuna Suripan?!
Oleh karena itu kami juga berkata: Pemilu dan demokrasi adalah haram dan bukan ajaran islam, akan tetapi ajaran orang-orang kafir, akan tetapi bila dari pemilu ada seorang yang berhasil menjadi pemimpin, maka kami akan mengakuinya dan taat kepadanya dan menentang setiap upaya pemberontakan kepadanya, kecuali bila pemimpin tersebut melakukan kekufuran yang nyata-nyata kufur dan tidak ada lagi keraguan padanya, dan umat islam memiliki kekuatan untuk menggantinya, tanpa mengakibatkan pertumpahan darah yang lebih berat dibanding berada di bawah kekuasaannya, maka kita akan katakan boleh untuk menggantinya dengan paksa.
Inilah metode berfikir Ahlus Sunnah yang penuh dengan hikmah dan senantiasa mementingkan kepentingan umat dibanding kepentingan pribadi.
Dari sedikit uraian di atas, jelaslah bahwa khilafah/kekuasaan bukanlah tujuan utama yang harus ditegakkan. Akan tetapi khilafah adalah sarana untuk menegakkan hukum Allah. Jadi bila upaya menegakkan khilafah dengan jalur kekuatan hanya akan menimbulkan kerusakan, dan pertumpahan darah yang tiada hentinya, maka apalah artinya. Karena khilafah ada diantara tujuannya adalah guna melindungi jiwa dan agama umat islam. Oleh karena itu saya harap akhuna Suripan kembali membaca dan merenungi kisah negoisasi yang dilakukan oleh ‘Utbah bin Rabi’ah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di atas.
Walau demikian saya katakan menurut sunnatullah, hukum-hukum Allah tidak akan dapat ditegakkan dengan sempurna tanpa adanya khilafah yang islamiyyah.
Akhuna Suripan berkata:
Permasalahan Bom Bunuh Diri (BBD) Secara terang-terangan bahwa saudara-saudara telah mengarahkan kesalah satu gerakan Islam, padahal pemerintah sendiri dalam hal ini polisi tidak berani melakukan hal itu.Bahkan tuduhan-tuduhan itu saudara-saudara lakukan tanpa kajian mendalam dan tanpa melakukan tawazunitas terlebih dulu, hanya karena ada fatwa bahwa BBD yang dilakukan kaum muslimin palestina adalah bukan BBD tapi Bom Syahid lalu dengan entengnya saudara-saudara kait-kaitkan bahwa BBD itu karena akibat dari fatwa tersebut. Padahal fatwa tersebut jelas-jelas menyebutkan bahwa bila BBD itu yang dilakukan di wilayah konflik ummat Islam seperti Palestina hari ini yang boleh dikatakan sebagai Bom Syahid, bukan BBD yang dilakukan di wilayah aman seperti di wilayah Indonesia, itu jelas tidak termasuk yang difatwakan. (Penjelasan lebih lanjut masalah bom syahid, lain kali akan saya terlampir).
Ya akhi pernahkan antum bertanya: Siapakah korban pengeboman yang terjadi di JW Mariot, Kedubes Australia, dll, siapakah yang menjadi korbannya? Apakah orang-orang muslim ataukah orang non muslim atau campur antara keduanya? Nah dengan dosa dan sebab apa orang muslim menjadi korban pengeboman? Pernahkan anda menelusuri dalil-dalil tentang haramnya penumpahan darah seorang muslim?
Sebagai pengingat diri saya dan diri antum, saya ajak antum untuk merenungi hadits berikut:
عن عبد الله بن عمرو أن النبي صلى الله عليه و سلم قال : (لزوال الدنيا أهون على الله من قتل رجل مسلم) رواه الترمذي والنسائي وصححه الألباني
“Dari sahabat Abdullah bin ‘Amer bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sungguh sirnanya dunia seisinya lebih ringan di sisi Allah dibanding membunuh seorang muslim.” (Tirmizy dan An Nasa’I dan dishahihkan oleh Al Albani)
Dan berikut saya nukilkan fatwa ulama’ tentang masalah ini:
Jawaban Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz -rahimahullah-
Pertanyaan: Apa hukumnya orang yang meletakkan bom ditubuhnya, guna membunuh segerombolan orang yahudi?
Jawaban: Menurut saya -dan tentang hal ini, kami telah ingatkan berkali-kali- bahwa aksi tersebut tidak benar, sebab aksi ini merupakan aksi bunuh diri. Allah berfirman:
ولا تقتلوا انفسكم
“Janganlah kamu membunuh dirimu.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
من قتل نفسه بشيئ عذب به يوم القيامة
“Barang siapa membunuh dirinya dengan cara sesuatu, maka ia akan disiksa dengannya pada hari Kiamat.”
Seorang muslim harus berusaha melindungi jiwanya, dan jika telah dikumandangkan panggilan jihad, maka dia pergi berjihad bersama kaum muslimin, kalau ia terbunuh maka alhamdullah. Adapun ia membunuh dirinya sendiri dengan cara mengikatkan bahan peledak pada dirinya, agar terbunuh bersama diri orang-orang yahudi, maka ini adalah metode yang salah dan tidak boleh, atau dengan menikam dirinya agar ada orang kafir yang terbunuh bersamanya. Tapi jalan yang benar adalah, jika telah disyariatkan jihad, ia berjihad bersama umat Islam lainnya. Adapun aksi yang dilakukan remaja-remaja Palestina, adalah satu kesalahan, lagi tidak baik. Kewajiban mereka adalah berdakwah, mendidik dan membimbing serta menasehati, tanpa melakukan aksi kekerasan. (Kaset Aqwalul Ulama Fil Jihad, Studio Minhajus Sunnah Riyadh).
Jawaban Syeikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin -rahimahullah-
Beliau –rahimahullah- pada waktu menjelaskan kisah ashhabul ukhdud (Kisah mereka diriwayatkan oleh Imam Muslim, pada Kitab Az Zuhud wa Ar Raqaiq, bab: Kisah Ashhabil Ukhdud, no: 3005). tatkala menyebutkan faedah darinya, berkata: “Sesunggunya boleh bagi seseorang untuk mengorbankan dirinya demi kemashlahatan seluruh kaum muslimin, karena anak ini telah menunjukkan raja tersebut kepada hal yang bisa membunuhnya dan membinasakan dirinya, yaitu dengan mengambil anak panah dari tempatnya…
Syeikhul Islam berkomentar: “Karena perbuatan anak tersebut adalah jihad fii sabilillah, satu umat beriman (karenanya), sedang dia tidak kehilangan sesuatu apapun, walau dia mati, karena dia pasti mati, cepat atau lambat.”
Adapun yang dilakukan sebagian orang, dengan membawa bahan peledak (bom), dan maju kepada orang-orang kafir, kemudian apabila telah berada ditengah-tengah mereka, ia meledakkannya, maka sesungguhnya tindakan ini termasuk bunuh diri –wal’iyadzu billahi-, dan barangsiapa yang bunuh diri, maka dia akan kekal di neraka jahannam selama-lamanya, seperti yang disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (Beliau mengisyaratkan kepada Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, pada kitab: At Thib, bab: Hukum meminum racun dan obat yang dapat mematikan, no: 5778). Karena orang ini, telah membunuh dirinya sendiri, tanpa mendatangkan kemashlahatan sedikit pun bagi kaum muslimin, karena apabila dia telah membunuh dirinya dan membunuh 10 atau 100 atau 200 orang kafir, agama islam tidak mendapat manfaat darinya, manusia tidak juga masuk islam, berbeda dengan kisah anak kecil tersebut, barangkali musuh akan lebih mengganas, hingga membantai kaum muslimin dengan membabi buta.
Sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yahudi terhadap penduduk Palestina, karena penduduk Palestina apabila satu diantara mereka mati dengan sebab bom bunuh diri, dan berhasil membunuh 6 atau 7 orang yahudi, maka orang-orang yahudi itu akan membunuh 60 orang atau lebih dengan sebab perbuatannya itu, maka hal ini tidak mendatangkan manfaat bagi kaum muslimin, dan juga bagi orang yang bunuh diri tersebut.
Oleh karena itu, kami berpendapat bahwa tindakan sebagian orang, dengan melakukan bom bunuh diri, tergolong dalam perbuatan bunuh diri tanpa alasan yang dibenarkan, dan menjadikan pelakunya masuk neraka –wal ‘iyadzu billahi-, dan pelakunya tidak dikatakan syahid. Akan tetapi jika orang itu melakukan tindakan tersebut karena men-ta’wil, dia mengira bahwa hal ini dibolehkan, kami mengharap dia terbebas dari dosa, adapun untuk kemudian dia dijuluki sebagai orang syahid, maka tidak bisa, karena dia tidak menempuh jalan syahadah (cara mati syahid yang benar), barangsiapa yang berijtihad dan dia salah, maka ia mendapat satu pahala.” (Syarah Riyadhus sholihin 1/165-166).
Pertanyaan:Apa hukum syariat mengenai orang yang meletakkan bom ditubuhnya dan kemudian meledakkan dirinya sendiri di tengah-tengah kerumunan orang-orang kafir, dalam rangka membantai mereka? Apakah benar berdalil dengan kisah anak kecil yang seorang raja memerintahkan agar dibunuh (kisah Ashhabul Ukhdud?)
Jawaban:Orang yang meletakkan bom ditubuhnya dengan tujuan untuk kemudian meledakkan dirinya ditempat keramaian musuh, maka dia telah membunuh dirinya, dan akan diadzab di neraka jahannam dengan alat yang ia gunakan untuk membunuh dirinya, ia kekal di neraka selama-lamanya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang orang yang membunuh dirinya dengan sesuatu, maka dia akan diadzab dengan alat tersebut di neraka jahannam.
Sungguh mengherankan orang-orang yang melakukan perbuatan seperti ini, padahal mereka telah membaca firman Allah Ta’ala:
ولا تقتلوا أنفسكم إن الله كان بكم رحيما
“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Alloh amat kasih sayang terhadapmu.” (QS. An-Nisa’: 29), lalu tetap nekad melakukan tindakan tersebut, apakah mereka berhasil memetik sesuatu? apakah musuh terkalahkah dengan cara itu? apakah malah sebaliknya, musuh bertambah ganas terhadap orang-orang yang melakukan tindakan ini, seperti yang kita saksikan di negara yahudi. Mereka tidaklah jera dengan adanya tindakan seperti ini, bahkan semakin brutal, bahkan kita dapatkan negara yahudi pada jajak pendapat terakhir, kelompok garis kanan yang berkeinginan membasmi orang-orang arab berhasil meraih kemenangan.
Akan tetapi orang yang melakukan tindakan ini dengan dasar ijtihad, dia mengira hal itu termasuk amal baik yang akan mendekatkan dirinya kepada Allah, maka kami mohon kepada Allah Ta’ala untuk tidak menyiksanya, karena dia mentakwil dan jahil.
Adapun berdalih dengan kisah anak kecil (ashhabul ukhdud), maka kisah anak kecil itu menyebabkan masuknya satu umat ke dalam agama islam, bukan membantai musuh, oleh karena itu ketika sang raja tersebut mengumpulkan masyarakat dan mengambil anak panah dari tempatnya anak kecil tersebut, sambil berkata: “Dengan menyebut nama Allah Tuhan anak kecil ini,” manusia berteriak semuanya: “Tuhan Yang Benar adalah Tuhannya anak kecil ini!” dari sinilah suatu umat yang banyak masuk islam. Seandainya dihasilkan seperti kisah ini, maka kami akan mengatakan mungkin bahwa ada benarnya berdalil dengan kisah ini, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengkisahkannya kepada kita, agar kita mengambil pelajaran darinya. Akan tetapi mereka yang melakukan peledakkan dirinya sendiri, apabila berhasil membunuh 10 atau 100 orang musuh, maka musuh semakin brutal dan kokoh dalam berpegang teguh dengan prinsip mereka.
Pertanyaan: Ada orang yang mengaku bahwa dirinya melakukan aksi jihad dengan model bunuh diri, sebagai contoh, seseorang dari mereka memuati kendaraanya dengan bahan peledak dan kemudian menerobos musuh, dan dia yakin bahwa ia pasti akan menemui ajalnya dalam aksi tersebut?
Jawaban: Aksi ini menurut saya, adalah aksi bunuh diri dan ia akan di siksa di Jahannam dengan cara yang dia tempuh untuk menghabisi nyawanya, seperti yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits shohih.
Namun orang bodoh yang tidak mengerti dan ia melakukannya dengan anggapan bahwa perbuatannya tersebut baik dan diridhoi Allah, saya harap semoga Allah mengampuninya, karena ia melakukannya berdasarkan ijtihad. Meskipun saya berpendapat bahwa dia tidak memiliki alasan di masa kini, sebab bunuh diri dengan bentuk di atas, telah dikenal dan menyebar di kalangan umat. Seharusnya ia menanyakannya kepada ulama’, agar jelas baginya kebenaran dari kesesatan.
Yang mengherankan, mereka membunuh diri mereka sendiri, padahal Allah melarangnya. Allah berfirman:
ولا تقتلوا أنفسكم إن الله كان بكم رحيما
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An Nisa’: 29)
Kebanyakan mereka hanya terdorong oleh keinginan balas dendam terhadap musuh, dengan cara apapun, baik itu cara yang haram ataupun yang halal, ia hanya ingin memuaskan dirinya. Semoga Allah memberikan kepada kita penguasaan terhadap ilmu agama dan mengamalkan setiap yang membuat-Nya ridho. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Majalah Ad Dakwah, edisi 1598).
Akhuna Suripan berkata:
Walaupun berjenggot tetapi beda antara salafiyin dengan harakah lain Saudara-saudara Salafiyin yang di Rahmati Alloh. Musuh-musuh Alloh tidak perlu dikecoh dengan pernyataan-pernyataan seperti itu, mereka sudah kenyang dengan bermacam-macam tipu daya, 32 tahun mereka berkuasa (khusus Indonesia) dengan perlakuan zolimnya, intelijen mereka banyak lebih banyak dari jumlah saudara-saudara, lagi pula Alloh juga sudah mengingatkan kita di dalam salah satu ayatnya (QS. 2:120) agar kita hati-hati kepada mereka, disana Alloh nyatakan dengan jelas bahwa mereka tidak akan senang kepada sampai engkau mengikuti millah mereka. Jelas, mereka benci kita bukan karena jenggot tapi karena kita punya millah yang hanif yaitu millah yang mengakui bahwa Alloh itu Esa, Syariat Alloh adalah yang tertinggi tidak boleh ada yang lain, karena itulah mereka benci, kebencian mereka akan hilang kalau kita mau ikut millah mereka. Mereka sudah tahu siapa saudara-saudara, fatwa-fatwa saudara yang saudara-saudara rilis di website saudara terlihat jelas bahwa saudara-saudara mengharamkan, Pemilu, Demokrasi, Demontrasi dll dan itu sudah cukup bagi mereka untuk memasukkan saudara-saudara kedaftar pengikut Islam garis keras. Mungkin kalau selama ini mereka tidak mengutik-utik saudara-saudara, bukan berarti bahwa mereka senang pada saudara-saudara, menurut saya sekurang-kurangnya ada 2 hal, mengapa mereka tidak mengganggu saudara salafiyin sbb:
1. Selama ini, secara tidak langsung sikap saudara-saudara kepada harakah Islam yang lain sangat menguntungkan mereka, dimana salafiyin sikapnya keras terhadap kaum muslimin dan lemah lembut terhadap kaum kafirin? Inilah poin penting bagi mereka untuk tetap memelihara saudara-saudara, mereka tidak susah susah mengeluarkan banyak energi, tenaga dan biaya untuk membunuh gerakan-gerakan Islam, cukup dengan tulisan dan lisan saudara salafiyin.Nanti bila tiba saatnya, manakala kekuatan Islam yang selama ini bisa menghambat kezaliman mereka sudah lumpuh, maka mata meriam-meriam mereka akan mereka arahkan kepada sasaran tunggal yaitu kaum yang mengaku kaum Salafy. Bukankah saudara-saudara sadar dan ingat bahwa manusia paling licik dan jahat adalah Yahudi? Contoh peristiwa dari kelicikan mereka adalah Afganistan, dan Iraq. Dulu mereka adalah negara yang mereka bantu, namun sekarang mereka hujani mereka dengan misil, bom dan meriam.
2. Saudara-saudara salafiyin yang dirahmati Alloh. Saudara-saudara dimata musuh-musuh Alloh masih dikatagorikan da’wah yang masih difase teoritis, pada fase ini mereka tidak ambil pusing dengan beberapa fatwa yang saudara-saudara keluarkan yang ahkikatnya sangat bertentangan dengan prinsip mereka. Nanti pada saatnya saudara-saudara mau melangkah ke fase aplikatif, nah disini pereng sesungguhnya dimulai, saudara-saudara harus siap mengerahkan segala kemampuan baik materi, sumber daya manusia dan tenaga bahkan juga nyawa. Mereka tidak akan segan-segan untuk menggunakan cara-cara yang keji untuk melaumpuhkan musuh-musuhnya, sementara saudara-saudara umat islam (harokah islam) yang lain mungkin sudah duluan terkubur bahkan mungkin jadi mereka terkubur oleh andil dari tangan dan lisan saudara-saudara. Ah, kan masih ada Alloh yang akan membantu hambanya. Saudara-saudara harusnya malu kepada seorang salafus shaleh yang mengatakan bahwa: yang haq tidak akan bisa mengalahkan yang bathil kalau yang haq itu bercerai berai sedang kebathilan begitu kuat dan rapinya.
Ya akhi, sebenarnya yang menjadikan pemerintah ORBA senatiasa menguber-uber berbagai macam sekte/firqah yang ada di Indonesia adalah karena rasa khawatir akan kekuasaannya, yang mereka sadari sedang diganggu oleh firqah-firqah tersebut. Adapun bila kita tidak berupaya mengganggu kekuasaan mereka, niscaya mereka tidak akan mengusik dakwah kita. Apalagi bila mereka sadar bahwa kekuasaan akan tetap berada ditangan mereka bila mereka menerima dakwah kita, niscaya mereka akan tenang dan tidak akan nguber-uber dakwah kita. Bukankah antum semenjak dahulu sering membaca dan mendengar sebutan “Subversi”, akan tetapi apakah antum pernah mendengar bahwa ORBA menangkap orang atau memenjarakan orang karena ia shalat dengan benar, atau tidak mau syirik, tidak mau menyembah kuburan dll? Saya yakin antum tahu dengan pasti hal ini. Nah inilah rahasianya mengapa pemerintah dimanapun senantiasa nguber-uber setiap sekte yang berupaya merebut kekuasaan, dan senantiasa mengawas-awasi setiap gerak mereka. Apalagi sekte yang mengajarkan kepada para pengikutnya bai’at kepada pemimpin mereka atau mengaku mendirikan negara Islam bawah tanah atau yang serupa.
Adapun musuh-musuh Islam dari orang-orang yahudi dan nasrani, maka sebenarnya yang paling mereka takuti adalah orang-orang yang bertauhid dengan benar, dan senantiasa memerangi tindak kesyirikan dan bid’ah, oleh karena itu mereka dengan dana besar-besaran mendukung berbagai program kesesatan, dimulai dari seruan persatuan agama melalui JIL Paramadina, gerakan tasawuf melalui Dzikir berjama’ah, Jama’ah Tabligh, dll. Ini semua mereka lakukan demi mencari budak-budak yang akan menjadi kambing hitam dalam menghancurkan kekuatan umat Islam.
Dan diantara makar yang senantiasa mereka persiapkan untuk menghancurkan umat islam ialah dengan mendidik sekte-sekte garis keras, baik secara langsung atu tidak, agar suatu saat dapat dijadikan kambing hitam, dan alasan untuk menyerang negara islam, sebagaimana yang mereka lakukan dengan Usamah Bin Laden dan kelompoknya. Dahulu Amerika mendidik mereka menggunakan senjata, dan juga mempersenjatai mereka, bahkan menurut pengakuan sebagian kawan saya yang berasal dari Afganistan dan pernah ikut andil dalam melawan Uni Soviet: Setiap orang Afghan yang angkat senjata melawan Uni Soviet setiap hari mendapat gaji 1/2 dolar US. Dan ketika tiba saatnya mereka ingin menyerang Afganistan dan menguasai negri muslim ini, mereka jadikan antek-antek mereka (Usamah bin laden CS) sebagai dalih/kambing hitam. (Lha akhuna Suripan di tulisannya di atas telah menyadari akan hal ini, kok ya tidak mengambil Ibrah?).
Dan tidak mustahil, berbagai pengeboman di negri Islam termasuk Indonesia ada campur tangan dari mereka, baik dengan suplay bahan peledak, atau pendidikan/kaderisasi para perakit bom dll.
Saya menjadi heran dengan akhuna Suripan, mengesankan bahwa ikhwah salafiyyin keras terhadap sesama muslim, padahal yang mereka lakukan hanyalah mengkritik, dan membuktikan kesalahan dan penyelewengan sekte-sekte yang ada kepada masyarakat. Akan tetapi mengapa akhuna Suripan tidak merasa kebakaran jenggot melihat nyawa sebagian kaum muslimin direnggut dan jasad sebagiam umat islam bergelimpangan akibat terkena bom yang dipasang oleh sebagian sekte yang mengebom pasar umum atau perhotelan, atau fasilitas umum lainnya? Ataukah akhuna Suripan memang menganut paham, bahwa selain kelompoknya adalah kafir, sebagaimana yang diyakini oleh LDII? Ataukah akhuna Suripan menganggap bahwa masyarakat kita adalah masyarakat jahiliyyah, sehingga seluruh anggota masyarakat kita selain anggota kelompoknya layak untuk menjadi tumbal atau dikorbankan? La haula wala quwwata illa billah.
Pada kesempatan ini saya anjurkan antum untuk mengkaji sejarah perjuangan umat Islam di Indonesia melawan penjajah Belanda. Perjuangan yang dilakukan oleh Umat Islam di bawah kepemimpinan Imam Bonjol melawan Nasrani dan budak mereka yaitu kaum adat. Dan hendaknya antum juga mengkaji sejarah perjuangan umat Islam di India melawan Nasrani Inggris beserta anteknya Ahmadiyyah. Bila antum telah mengkaji sejarah ini, saya yakin antum akan berkesimpulan lain.
Yang sangat mengherankan lagi dari seluruh tulisan akhuna Suripan adalah: Akhuna Suripan merasa bersedih dan seakan tersayat-sayat hatinya melihat sebagian orang dan sekte yang dikritik dan dibongkar kesesatannya, akan tetapi Akhuna Suripan tidak merasa terusik dengan kesalahan dan penyelewengan yang dilakukan oleh berbagai sekte dari ajaran agama, misalnya seperti yang dilakukan oleh JIL, sekte Syi’ah yang menuhankan sahabat Ali, dan menyangka bahwa Malaikat Jibril salah alamat dalam menyampaikan wahyu, Ahmadiyyah yang mengaku bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang Nabi, kaum Tasawuf yang mengajarkan kasta dalam beragama, dimulai dari kasta syari’at, ma’rifat, wali, wihdatus syuhud, hingga wihdatul wujud, LDII yang senantiasa menganggap kafir seluruh kaum muslimin yang tidak ikut dalam sektenya dll.
Akhuna Suripan! Dengarlah baik-baik penjelasan Imam Malik bin Anas berikut:
من أحدث في هذه الأمة اليوم شيئا لم يكن عليه سلفها فقد زعم أن رسول الله صلى الله عليه و سلم خان الرسالة لأن الله تعالى يقول: حرمت عليكم الميتة والدم ولحم الخنزير وما أهل لغير لله به والمنخنقة والموقوذة والمتردية والنطيحة وما أكل السبع إلا ما ذكيتم وما ذبح على النصب وأن تستقسموا بالأزلام ذلكم فسق اليوم يئس الذين كفروا من دينكم فلا تخشوهم وخشون اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا فمن اضطر في مخمصة غير متجانف لإثم فإن الله غفور رحيم . فما لم يكن يومئذ دينا لا يكون اليوم دينا.
“Barang siapa pada zaman sekarang mengada-adakan pada ummat ini sesuatu yang tidak diajarkan oleh pendahulunya (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabatnya), berarti ia telah beranggapan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhianati kerasulannya, karena Allah Ta’ala berfirman: ‘Diharamkan bagimu bangkai, darah ……pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam menjadi agamamu. Maka barang siapa yang terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.’ (QS. Al Maidah: 3), sehingga segala yang tidak menjadi ajaran agama kala itu (zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabatnya) maka hari ini juga tidak akan menjadi ajaran agama.” (Riwayat Ibnu Hazem dalam kitabnya Al Ihkam 6/225).
Inilah hakikat bid’ah. Pada hakikatnya bid’ah adalah sanggahan terhadap kesempurnaan agama Islam yang telah ditetapkan Allah pada surat Al Maidah ayat 3, dan merupakan tuduhan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mendapatkan amanat menyampaikan risalah ini telah berkhianat. Seorang yang melakukan bid’ah Seakan-akan ia berkata: Bahwa agama Islam ini belum sempurna, sehingga perlu ditambahkan amalan saya ini, atau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah berkhianat, sehingga amalan baik yang saya amalkan tidak beliau ajarkan kepada umatnya. Na’uuzubillah min zalika.
Semoga jawaban saya ini dapat berguna dan menghilangkan berbagai syubhat yang ada pada diri akhuna Suripan dan setiap yang membaca tulisan saya ini. Dan semoga Alloh senantiasa melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua dan melindungai umat islam dari berbagai kesesatan, bid’ah dan kejahatan musuh-musuh-Nya.
اللهم ربَّ جبرائيلَ وميكائيلَ وإسرافيلَ فاطَر السَّماواتِ والأرضِ، عالمَ الغيبِ والشَّهادة، أنتَ تحْكُمُ بين عِبَادِك فيما كانوا فيه يَخْتَلِفُون، اهْدِنَا لِمَا اخْتُلِفَ فيه من الحق بإِذْنِكَ؛ إنَّك تَهْدِي من تَشَاء إلى صراط مستقيم. وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعينز والله أعلم بالصَّواب، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.
“Ya Allah, Tuhan malaikat Jibril, Mikail, Israfil, Dzat Yang telah Menciptakan langit dan bumi, Yang Mengetahui hal yang gaib dan yang nampak, Engkau mengadili antara hamba-hambamu dalam segala yang mereka perselisihkan. Tunjukilah kami –atas izin-Mu- kepada kebenaran dalam setiap hal yang diperselisihkan padanya, sesungguhnya Engkau-lah Yang menunjuki orang yang Engkau kehendaki menuju kepada jalan yang lurus. Sholawat dan salam dari Allah semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya. Dan Allah-lah Yang Lebih Mengetahui kebenaran, dan akhir dari setiap doa kami adalah: “segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam.” Amin. Walllahu a’alam bisshawab.
Diambil dari www.muslim.or.id

Jumat, November 02, 2007

Salaf dalam Mencari Maisyah (Penghidupan yang Halal)

Salaf dalam Mencari Maisyah (Penghidupan yang Halal)
Ada lima hal yang membangun kepribadian seorang Muslim pada masa dahulu, sekarang, dan akan datang. Pertama, mengenal Allah; kedua, mengenal kebenaran yang Allah turunkan; ketiga, ikhlas kepada Allah; keempat, mengikuti jejak Rasulullah; dan kelima, mencari yang halal. Pembahasan kita pada kaitan yang kelima ini dalam rangka mengisi kehidupan yang diridhai oleh Allah SWT. Hal itu telah dicontohkan oleh para nabi. Menurut riwayat Ibnu Abbas, Nabi Daud bekerja sebagai pandai besi, Nabi Adam petani, Nabi Nuh tukang kayu, Nabi Idris penjahit, dan Nabi Musa penggembala. Demikian pula contoh yang dipraktikkan oleh para ulama salaf, terutama Rasulullah dan para sahabatnya. Mereka bekerja dalam bidang perdagangan, pertanian, dan jasa.
Dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda (yang artinya), "Wahai manusia, sesungguhnya Allah SWT itu suci dan tidak menerima kecuali yang suci. Dan Allah SWT telah memerintah orang mukmin dengan apa yang diperintahkannya kepada para rasul, yaitu 'Wahai sekalin rasul, makanlah dari harta yang suci dan kerjakanlah perbuatan shaleh.' Kemudian beliau bercerita tentang seseorang yang dalam perjalanan panjang lalu memanjatkan tangannya ke langit sambil berdoa mengucap: Ya Tuhan, ya tuhan. Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan mengonsumsi yang haram. Bagaimana doanya bisa dikabulkan?" (HR Muslim).
Dari Ibnu Syihab berkata, Urwah bin Zubeir memberitahukan kepadaku bahwa Aisyah r.a berkata, tatkala Abu Bakar ash-Shiddiq menjabat sebagai khalifah ia berkata, "Kaumku telah mengetahui bahwa pekerjaanku (keahlianku) mampu menopang kesulitan keluargaku. Dan (sekarang) saya sibuk dengan urusan kaum Muslimin. Apakah kemudian keluarga Abu Bakar akan makan dari harta ini (baitul mal), sementara saya bekerja di dalamnya untuk kaum Muslimin?"
Dari Miqdad r.a., dari Nabi saw., "Tidaklah seseorang memakan makanan pun yang lebih baik daripada ia makan dari pekerjaan tangannya dan bahwa Nabiyallah Daud a.s. makan dari pekerjaan tangannya."
Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw. bahwa Nabi Daud AS tidak makan kecuali dari pekerjaan tanganya.
Dari Abi Ubaid Budah Abdurarahman, budak Abdurrahman bin Auf, bahwasanya ia mendengar Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, "Salah seorang dari kalian lebih baik mengantar sesuatu barang di atas punggungnya (menjadi kuli) itu lebih baik daripada ia meminta kepada seseorang, lalu ia memberinya atau tidak memberinya."
Contoh Para Ulama Salaf dalam Bermaisyah
Thalhah bin Ubaidillah
Dari Sa'di binti Auf berkata, "Thalhah datang kepadaku dan aku melihatnya dalam keadaan gelisah. Aku bertanya, 'Ada apa denganmu?' Ia menjawab, 'Hartaku telah menjadi banyak dan itu menggelisahkanku.' Aku bertanya, 'Lalu apa yang harus kamu lakukan?' Ia menjawab, "Saya akan membagikannya.' Maka, Thalhah pun kemudian membagikannya hingga tak tersisa sedirham pun untuknya."
Dari Hasan berkata, "Thalhah menjual tanahnya seharga 700 ribu. Pada malam harinya ia tidak bisa tidur karena uang itu masih ada padanya. Keesokan harinya ia membagikan semua uang itu." (HR Imam Ahmad).
Dari Hasan berkata, "Thalhah bin Ubaidillah menjual tanahnya dari Utsman seharga 700 ribu. Utsman kemudian membawakan uang itu kepadanya. Tatkala Utsman datang, ia berkata, 'Seseorang telah menyimpan uang satu malam di rumahnya, sementara ia tidak tahu apa yang akan dipukulkan Allah dari perkara-Nya karena kelalaian terhadap-Nya. Ia kemudian tidur sementara utusannya menyelisihinya di jalan-jalan Madinah hingga datang waktu sahur dan tak ada satu dirham pun padanya.
Abdurrahman bin Auf
Dari Tsabit al-Banani dari Anas berkata, "Ketika Aisyah r.a. berada di rumahnya, tiba-tiba ia mendengar suara yang mengagetkan kota Madinah. Ia lalu berkata, 'Ada apa ini?' Mereka menjawab, 'Kafilah Abdurrahman bin Auf datang dari Syam dengan 700 unta.' Aisyah berkata, 'Saya pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Saya melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak.' Ucapan ini sampai kepada Abdurrahman. Ia kemudian menemui Aisyah dan bertanya atas ucapan itu. Aisyah kemudian berkata kepadanya. Abdurrahkam lalu berkata, 'Saya bersaksi kepadamu bahwa kafilah dengan muatan, pelana, dan alas pelananya (saya infakkan) di jalan Allah 'Azza wa Jalla'."
Darinya berkata, ketika Aisyah berada di rumahnya ia mendengar suara dari kota Madinah. Ia lalu bertanya, 'Apa ini?' Mereka menjawab, 'Kafilah Abdurrahman bin Auf datang dari Syam membawa segala sesuatu.' (Perawi berkata), 'Yaitu 700 unta.' (Perawi berkata), 'Maka, terdengarlah suara gemuruh di kota Madinah karena kafilah itu.' Aisyah berkata, 'Saya mendengar Rasululah saw. bersabda, 'Saya melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak.' Ia berkata, 'Kalau mampu, saya akan masuk ke dalamnya dengan berdiri.' Maka ia menjadikan muatan dan pelana kafilahnya itu untuk di jalan Allah." (HR Imam Ahmad).
Dari zuhri berkata, "Abdurrahman bin Auf bershadaqah pada masa Rasulullah saw. dengan setengah hartanya: empat ribu dinar. Kemudian, bershadaqah lagi dengan 40 ribu, kemudian bershadaqah lagi dengan 40 ribu dinar. Kemudian, ia membawa 500 kuda di jalan Allah. Kemudian, ia membawa 1500 unta di jalan Allah. Dan, mayoritas hartanya dari perdagangan.
Dari Said bin Ibrahim dari ayahnya, "Bahwa Abdurrahman bin Auf diberi makanan, sementara ia tengah berpuasa. Ia berkata, 'Mushab bin Umair terbunuh, sementara ia adalah seorang yang dermawan (pemberi). Ia dikafani dengan kain yang bila kepalanya ditutup, kakinya terlihat; dan bila kakinya ditutup, kepalanya terlihat'." (Dan menurutku) ia berkata, "Hamzah terbunuh, sementara ia seorang dermawan, yaitu tidak terdapat untuk mengkafaninya, kecuali sehelai kain. Kemudian dunia dilapangkan untuk kita selapang-lapangnya." (Atau ia berkata), "Kami diberi dunia apa yang telah diberikan kepada kami, dan kami khawatir bahwa itu adalah kebaikan yang disegerakan untuk kita. Kemudian, ia menangis sehingga ia meninggalkan makanan. (HR Bukhari).
Dari Said bin Husain berkata, adalah Abdurrahman bin Auf tidak diketahui (bila) ia berada di antara para budaknya.
Salman al-Farisi
Dari Nukman bin Hamid berkata, "Saya datang bersama paman saya kepada Salman al-Farisi di Madain, sementara ia bekerja sebagai penjual daun kurma. Saya mendengar ia berkata, "Saya membeli daun kurma satu dirham, lalu aku kerjakan dan aku menjualnya dengan tiga dirham. Satu dirham saya jadikan modal. Satu dirham saya berikan kepada kelurga dan satu dirham saya infakkan. Meskipun Umar menghentikanku, tapi aku tidak menghentikannya.
Dari Abi Laila al-Kindi berkata, "Anak Salman berkata kepada Salman, 'Berilah saya wasiat.'Ia bertanya, 'Apakah kamu mempunyai sesuatu?'Ia menjawab, 'Tidak.' Ia berkata, 'Dari mana?'Ia menjawab, 'Saya meminta manusia.' Ia berkata, 'Kamu ingin memberiku kotoran manusia'."
Abdullah bin Mubarak
Hibban bin Musa berakta, "Ibnu Mubarak dicela karena tidak memberikan jamuan dari hartanya, baik di negara lain maupun terhadap penduduk negerinya."Ia berkata, "Saya mengetahui tempat dari orang-orang yang memiliki keutaaman dan kejujuran dalam mencari hadits dan telah melakuan pencarian dengan baik. Mereka adalah orang-orang yang membutuhkan. Bila kami meninggalkan mereka, ilmu mereka akan hilang. Sementara, bila kami menolong mereka, ilmu akan tersebar kepada umat Muhammad. Dan, saya tidak mengetahui setelah kenabian yang lebih utama daripada tersebarnya ilmu."
Maksudnya adalah bahwa Ibnu Mubarak menyalurkan hartanya untuk kepentingan para pejuang pencari ilmu. Yaitu, mereka yang akan menyebarkan agama ini kepada umat manusia. Sementara, penuduk negeri tidak mengetahuinya, sampai-sampai ia mendapatkan celaan dari orang-orang.
Al-Husain bin Hasan al-Maruzi berkata, "Saya mendengar Ibnu Mubarak berkata, 'Penduduk dunia keluar dari dunia sebelum mereka makan yang terbaik di dalamnya.'Orang-orang bertanya, 'Apa yang terbaik di dalamnya?' Ia menjawab, 'Makrifah kepada Allah Azza wa Jalla'."
Ali bin Hasan bin Syaqiq berkata, saya mendengar Ibnu Mubarak berkata, "Saya menolak satu dirham dari yang syubhat itu lebih saya cintai daripada bershadaqah dengan seratus ribu, dan seratus ribu, hingga enam ratus ribu."
Abdulah bin Khubaiq berkata, "Ibnu Mubarak ditanya apakah tawadhu itu?" Ia menjawab, "Sombong di depan orang kaya."
Sulaiman bin Daud berkata, "Saya bertanya tentang Ibnu Mubarak kepada manusia?" Ia berkata, "Ulama." Saya bertanya, "Apakah ia dari raja?" Ia berkata, "Dari orang yang zuhud." Saya bertanya, "Apakah ia termasuk orang jelata?" Ia berkata, "Huzaimah dan teman-temannya." Saya bertanya, "Apakah ia termasuk orang rendahan?" Ia menjawab, "Orang-orang yang hidup dengan agama mereka."
Nasihat Menyikapi Harta dengan Zuhud
Nasihat Sufyan ats-Tsauri kepada Ali bin al-Hasan.
Wahai saudaraku! Hendaknya kamu mencari harta yang halal dan apa yang engkau hasilkan dengan tanganmu. Hendaknya engkau jauhi kotoran manusia (shadaqah) untuk memakannya atau mencampurinya. Karena, orang yang memakan kotoran manusia seperti ketinggian bagi seseorang dan tidak memiliki bawahan. Ia senantiasa berada dalam ketakutan untuk terjerumus kepada bawahnya dan hancur ketinggiannya. Orang yang memakan kotoran manusia akan berbicara dengan hawa nafsu, dan merendah di hadapan manusia karena takut mereka akan menangkapnya.
Wahai saudaraku! Bila kamu menerima sesuatu dari manusia, lisanmu telah terputus. Dan, engkau telah memuliakan sebagian manusia dan merendahkan sebagaian lainnya. Padahal, ia tidak turun kepadamu pada hari kiamat. Sesungguhnya orang yang memberimu sesuatu dari hartanya, sebetulnya itu adalah kotorannya. Dan arti dari kotorannya adalah mensucikan amalnya dari dosa. Apabila engkau menerima sesuatu dari manusia, engkau akan memenuhi panggilannya bila ia mengajak kepada kemungkaran. Sesungguhnya orang yang memakan kotoran manusia seperti seseorang yang memiliki serikat terhadap sesuatu yang sudah semestinya ia membagikannya.
Wahai saudaraku! Laparlah dan sedikit beribadah itu lebih baik daripada engkau banyak beribadah tapi kenyang dengan kotoran manusia. Telah sampai kepada kami bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Seandainya salah seorang dari kalian mengambil tali kemudian mengumpulkan sampai membelakangi punggungnya itu lebih baik daripada ia berdiri di atas kepala saudaranya, memintanya atau mengharapkannya." (HR Bukhari).
Telah sampai kepada kami bahwa Umar r.a. berkata, "Barang siapa di antara kalian yang bekerja, maka kami memujinya dan bila ia tidak bekerja, kami menuduhnya."
Ia berkata, "Wahai para pembaca! Tinggikan kepala kalian dan janganlah menambah kekhusyu'an atas apa yang ada di hati. Berlomba-lombalah dalam mencari kebaikan, dan jangan menjadi tanggungan manusia! Jalan sudah jelas."
Ali bin Abi Thalib berkata, "Sesungguhnya orang yang hidup dari tangan manusia, seperti orang yang menanam pohon di tanah orang lain."
Maka, takutlah kepada Allah wahai saudaraku, sesungguhnya tidaklah seseorang menerima dari manusia sesuatu kecuali ia menjadi hina dan rendah di sisi manusia, sementara orang Mukmin adalah saksi Allah di muka bumi.
Hendakanya kamu jangan mencari harta yang buruk, lalu menginfakkannya di dalam ketaatan kepada Allah. Sesungguhnya meninggalkannya adalah kewajiban dari Allah. Sesunggunya Allah adalah bersih dan tidak menerima, kecuali yang bersih.
Apa pendapatmu terhadap seseorang yang pakaiannya terkena air kencing kemudian mensucikannya dengan air kencing lainnya? Apakah menurutmu itu akan membersihkannya? Sekali-kali tidak! Sesungguhnya kotoran tidak bisa dibersihkan, kecuali dengan yang baik. Begitu pula kejelekan tidak akan terhapus kecuali dengan kebaikan. Sesungguhnya Allah itu bersih dan tidak menerima, kecuali yang bersih. Dan, sesungguhnya yang haram tidak akan diterima dari amal apa pun. Atau, apakah seseorang yang melakukan dosa, lalu ia menghapusnya dengan dosa? Wallahu a'lam bish-shawab.
Ditulis oleh Farid Achmad Okbah, M.Ag.
( Diambil dari www.alislamu.com)

Tazkiyah yang Benar dan Penyimpangannya

Tazkiyah yang Benar dan Penyimpangannya



Banyak orang dalam mencari rizki (baca: dunia) tidak mengindahkan batasan halal dan haram. Mereka mengira bahwa kebahagian terletak pada banyaknya materi. Mereka beranggapan bahwa apabila seseorang mempunyai rumah mewah, mobil wah, perusahaan banyak, dan simpanan uang di bank yang melimpah, maka orang tersebut bisa disebut bahagia. Tapi, pada kenyataannya, orang seperti ini justru kehidupannya menderita. Sehingga, tak jarang orang itu terkena stress dari berbagai masalah yang menimpanya. Dalam kondisi seperti itu, ternyata harta tidak bisa selalu memecahkan masalah. Hanya harta yang di tangan orang yang shaleh saja yang bisa membahagiakan. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya), "Sebaik-baik harta yang baik adalah di tangan orang yang shaleh."
Ada kalanya orang menyangka bahwa jabatan atau kedudukan sosial dapat mengantarkan pada kehormatan yang dapat membahagiakan. Untuk tujuan itu, banyak orang menyuap dan berbuat apa saja agar menduduki jabatan tertentu. Mereka berasumsi bahwa tempat tersebut terhormat dan basah. Biasanya, cara perolehan jabatan seperti ini banyak menimbulkan masalah di belakang hari, terutama menjadi lahan subur bagi para penjilat dan kelompok oportunis. Bisa diduga bahwa karir itu akan berakhir dengan kekecewaan-kekecewaan sebab dibangun dengan landasan yang rapuh dan berkhianat terhadap amanat jabatan tersebut. Memang jabatan tidak selamanya membawa kebahagiaan. Bahkan, tanggung jawabnya berat sekali di hari kemudian. Rasulullah saw. bersabda kepada Abu Dzar al-Ghifari, "Apabila kamu lemah, jangan kamu memangku jabatan, karena itu adalah amanat dan akan menjadi penyesalan pada hari kiamat kelak."
Sementara itu, sebagian manusia "hidung belang" beranggapan bahwa kebahagiaan terletak pada pelampiasan nafsu kepada wanita sebanyak dan secantik mungkin. Banyak wanita yang lemah imannya jatuh ke pangkuannya. Dia bagaikan orang yang minum air laut, semakin diminum semakin haus. Tiada hentinya dia mengarungi lautan perzinaan. Banyak dari mereka yang berakhir dengan mengidap penyakit berbahaya. Demikian akibat menyalahi aturan Allah SWT. Model pemuda seperti ini pernah datang kepada Rasulullah saw. dan menyatakan bersedia memasuki pelataran Islam dengan satu syarat agar dia dibolehkan berzina karena dia merasa paling suka sama perempuan. Kemudian Rasulullah saw. membisiki telinga pemuda tadi seraya bertanya, "Apakah engkau rela ibumu dizinai orang?"Dia menjawab, "Tidak.""Apakah engkau rela saudaramu dizinai orang?"Dia menjawab, "Tidak.""Mengapa engkau rela menzinai (mungkin itu) ibunya orang, atau saudarinya orang, atau tantenya orang lain."Karuan saja pemuda itu bergumam, "Sungguh, saya kelewatan."Sejak itulah dia berkata, "Tidak ada perbuatan yang paling saya benci melebihi berzina."
Banyak orang menempuh berbagai cara untuk mendapatkan kebahagiaan, tapi tak mendapatkannya. Ibnu Hazm, seorang ulama hebat dari Andalusia, Spanyol, pernah mengatakan bahwa seluruh manusia berjalan ke satu arah, yaitu mengusir ketakutan untuk mencapai kebahagiaan. Karena takut miskin, manusia bekerja keras mendapatkan harta agar kaya. Karena takut bodoh, manusia mencari ilmu agar pintar. Karena takut hina, manusia mencari kedudukan agar terhormat, dan sebagainya. Tapi, cara apa pun yang ditempuh manusia untuk mendapatkan kebahagiaan tidaklah dapat terwujud kecuali dengan ad-din (agama Islam). Dengan Islam bukan saja kebahagiaan dunia yang diperoleh, tapi juga kebahagiaan di akhirat.
Pusat Kebahagiaan
Pusat kebahagiaan itu terletak di hati. Apabila hati seseorang itu dipenuhi dengan cahaya keimanan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, dia akan bahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya, bagi mereka yang berpaling dari jalan Allah dan mengikuti jalan lain dengan konsepsi syaitan dan konco-konconya, pasti cepat atau lambat akan mendapat kesengsaraan dunia, apalagi di akhirat. Allah SWT berfirman (yang artinya), "Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, ...." (At-Taubah: 124).
Allah hanya menerima hati yang bersih, tulus ikhlas kehidupannya, dengan berbagai variasinya dipersembahkan hanya untuk-Nya. Allah SWT berfirman, "(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (Asy-Syu'aaraa: 88-89). Karena, hati ini sebagai penggerak dan penentu kebahagiaan seseorang, maka harus diperhatikan. Seperti disinyalir Rasulullah saw., "Ketahuilah bahwa dalam jasad manusia terdapat segumpal darah, kalau dia baik seluruh jasadnya baik. Namun, apabila dia rusak, seluruh jasadnya rusak. Itulah hati." (HR Bukhari).
Sebagian ulama salaf menggambarkan bahwa hati ini seperti rumah yang mempunyai pintu dan jendela. Apabila penjagaan pintu dan jendela tidak ketat, bisa dipastikan seisi rumah akan dikuras oleh maling. Pintu dan jendela tersebut adalah mata, telinga, dan seluruh anggota tubuh. Sedangkan malingnya adalah syaitan dan kroni-kroninya. Kita berkewajiban untuk menjaga hati dan mengisinya dengan tazkiyah sesuai petunjuk Al-Qur'an dan susnah Rasulullah saw.
Perlu diketahui bahwa hati itu bekerja sesuai dengan fungsinya, sebagaimana anggota tubuh kita bekerja sesuai dengan fungsinya. Awalnya hati itu hidup. Tapi, proses berikutnya bila tidak dijaga dan diisi dengan tazkiyah, dia bisa sakit, bahkan mati. Rasulullah saw. menggambarkan hati itu dalam sabdanya, "Permisalan petunjuk dan ilmu yang ditugaskan Allah kepadaku bagaikan air hujan yang turun ke bumi. Di antaranya mengenai tanah yang subur dapat membawa air untuk manusia … bahkan pepohonan. Ada yang mengena tanah tandus dapat menahan air tapi tak dapat menghidupkan pepohonan. Ada pula tanah yang datar dapat menahan air dan tidak pula membutuhkan pepohonan. Tanah pertama seperti hatinya mukmin yang menyerap ilmu Islam serta mengaplikasikannya. Tanah kedua hatinya orang munafik yang bisa menyerap ilmu Islam tapi tidak menjalankannya. Tanah ketiga seperti hatinya orang kafir yang tidak mengindahkan ajaran orang Islam, apalagi mengamalkannya." (HR Bukhari).
Tazkiyah
Tazkiyah secara bahasa berasal dari akar kata zakaa, berarti "berkembang". Tazkiyah adalah pengembangan dan pembersihan. Sedangkan menurut epistemologi syara', tazkiyah berarti perawatan, pengembangan, dan pembersihan hati dari berbagai intrik syirik.
Rasulullah saw. selalu berdoa seperti berikut. "Ya Allah, berilah ketakwaan kepada jiwaku dan bersihkanlah. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik yang membersihkannya. Engkaulah penolong dan pemiliknya." (HR Muslim dan Ahmad).
Syariat Islam ini isinya adalah tazkiyah nufus (pembersihan jiwa). Sehingga, mereka pantas sebagai penduduk surga yang bersih. Tak ubahnya seperti pakaian yang bersih kita letakkan di almari, sementara yang kotor harus dicuci, dijemur, dan disetrika. Perhatian perintah shalat, tujuannya agar terhindar dari kekejian dan kemungkaran. "Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar." (Al-Ankabut: 45).
Rasulullah saw. bersabda, "Bagaimana pendapatmu bila di hadapan pintumu ada sungai (yang mengalir) yang dengan itu kamu sekalian mandi lima kali sehari?" Lalu Rasulullah bersabda lagi, "Adakah tersisa daki di badannya?"Lantas sahabat pun menjawab, "Tidak sedikit pun."Kemudian Rasulullah pun bersabda, "Begitulah perumpamaan shalat lima waktu yang dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan (dosa-dosa)" (HR Bukhari).
Perintah zakat disebutkan Al-Qur'an: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, ...." (At-Taubah: 103).
Perintah haji disebutkan sebagai berikut. "… maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji ...." (Al-Baqarah: 197).
Demikian pula sederetan syariat Allah lainnya, semua itu bertujuan agar manusia bersih jiwanya. Itulah rahasia yang Allah tidak menjadikan di dalam diri manusia dua hati. Yaitu, apabila hati seseorang diisi dengan cinta kepada Allah, seluruh cinta yang lain akan keluar dan terikat dengan itu. Sebaliknya, hati yang diisi cinta selain Allah, seperti harta, perempuan, jabatan, dsb., maka cinta kepada Allah akan terbang. Tak heran ungkapan seorang ulama bernama Ibnu Taimiyah, "Di dunia ini ada surga, siapa yang tidak memasukinya, dia tidak akan memasuki surga akhirat."
Ia juga mengatakan, "Apa yang akan diperbuat kepadaku oleh musuh-musuhku? Surga itu milikku, ada di dadaku. Ke mana saja saya menuju, dia bersamaku, tidak berpisah. Bila aku dipenjara, itu adalah khalwat bagiku; bila dibunuh, aku mati syahid; dan bila aku diusir, kepergianku adalah darmawisata."
Cara Membersihkan Jiwa
Bagaimana cara membersihkan jiwa? Pertama, kita harus mengenal diri kita. Kedua, mengisi diri kita melewati pembersihan (tazkiyah) dengan tiga tahapan: (1) pembersihan akidah, (2) pembersihan dengan menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangannya, (3) menjalankan sunnah-sunnah Rasulullah saw.
Tiga Tahapan Pembersihan Jiwa
Adapun tiga tahapan yang harus dilalui oleh seorang Muslim yang ingin mendapatkan kebahagiaan dan ketenteraman hidupnya adalah sebagai berikut.
Tahap Pertama: Tazkiyah Melalui Pembersihan Akidah
Seluruh isi Al-Qur'an mengadung ajaran akidah yang lengkap, terdiri dari empat bagian. Pemberitahuan tentang Allah, nama dan sifatnya disebut tauhid ilmiyah teoritis. Ajakan agar penghambaan (baca: ibadah) hanya kepada Allah semata disebut dengan tauhid amaliyah praktis. Penjelasan tentang perintah dan larangan yang harus ditaati sebagai konsekuensi logis penerimaan tauhid disebut dengan hak-hak tauhid. Keterangan positif tentang hasil yang akan diperoleh pelaku tauhid di dunia maupun di akhirat dan akibat buruk bagi yang menolak atau ragu-ragu terhadap tauhid di dunia sebagai kesengsaraan dan di akhirat ke dalam api neraka.
Begitu bersih jiwa orang yang berakidah Islam yang benar sehingga dapat membuahkan kebahagiaan setiap saat. Digambarkan oleh Allah indah sekali berikut ini. "Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (An-Nahl: 97).
Berbeda dengan orang yang rusak akidahnya seperti umumnya musyrikin, maka Allah menyebut mereka jiwanya kotor. "Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, ...." (At-Taubah: 28). Hal itu terjadi karena mereka banyak menzalimi dirinya karena tidak mengindahkan ajakan Sang Pencipta dirinya. "Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (Luqman: 13). Akibatnya, mereka berjalan di atas kesesatan. "Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya." (An-Nisaa': 116).
Di sini rahasia Rasulullah saw. mencurahkan perhatian selama tiga belas tahun saat berada di Mekah. Rasulullah saw. menggembleng para sahabat agar akidahnya murni dari intrik-intrik syirik apa pun bentuknya.
Ibnul Qayyim menggambarkan indah sekali keimanan mereka yang bersih itu. Ringkasnya, mereka adalah manusia yang hatinya diliputi dengan pengertian terhadap Allah sampai meluap rasa cintanya, rasa takut (baca: khasyah), pengagungan, dan selalu merasa dikontrol oleh Allah SWT (baca: muraqabah). Rasa cintanya telah merasuki seluruh bagian tubuhnya sampai tulang sumsumnya sampai pada tingkat melalaikan cinta selain dari pada-Nya. Tandanya, ia banyak ingat dan menyebut Allah. Seluruh harap dan cemasnya ditujukan kepada-Nya serta selalu bertawakal dan mengembalikan segala urusannya kepada Allah setelah melalui berbagai upaya dan sebab yang dibenarkan. Tak jarang ia bertaubat dan tunduk patuh keharibaannya.
Apabila dia meletakkan punggungnya di pembaringannya, jiwanya melayang ke hadirat Ilahi sambil menyebut-nyebut nama dan sifat-sifat-Nya. Dia menyaksikan asma dan sifat-Nya yang telah memerangi cahaya hatinya. Badannya di atas tempat tidur, sementara jiwanya berdarmawisata dan sujud di keharibaan Rabb yang dia cintai, penuh khusu', dan rendah hati. Hanya Allah jualah yang memenuhi seluruh kebutuhan manusia dan seluruh makhluk. Allahlah yang mengampuni dosa hambanya, menyelesaikan segala persoalannya, membahagiakan orang sedih, menolong yang lemah, memberi kekayaan dan mencukupkan orang miskin. Dialah yang mematikan dan menghidupkan, membahagiakan dan mencelakakan, menyesatkan dan memberi petunjuk, memberi kekayaan kepada segolongan manusia dan menjadikan miskin pada segolongan yang lain, mengangkat derajat suatu kaum dan menghinakan kaum yang lain, dan sebagainya.
Begitu pentingnya akidah ini sehingga harus kita pelajari secara global kemudian terinci dari sumber yang terpercaya. Ini masalah agama (baca: din) tidak boleh kita ambil dari sembarang orang, tapi harus dari yang terpercaya ilmu dan amalnya. Seperti sinyalemen Imam Malik dan Ibnu Sirin, "Ilmu ini, ilmu agama, hendaknya kamu ambil ilmu agamamu dari orang yang benar-benar kamu percayai."
Tentunya, dalam kesempatan yang terbatas ini, kami tidak mengungkapkan poin-poin dalam akidah, tetapi sebatas pembuka dan perangsang belaka agar diketahui pentingnya hal tersebut.
Tahap Kedua: Tazkiyah dengan Menjalankan Perintah dan Meninggalkan Larangan
Sebelum seseorang melakukan atau meninggalkan sesuatu, hendaknya dia tahu betul bahwa hal tersebut memang diperintah sehingga harus dikerjakan atau dilarang sehingga harus ditinggalkan. Sementara, yang sering terjadi ada orang yang menjalankan kewajiban tapi pada saat yang lain dia melakukan pelanggaran. Contohnya, berapa banyak orang yang menjalankan shalat di masjid, tapi kalau pergi ke kantor dia melakukan korupsi. Kita harus konsekuen kalau mau selamat. Kita harus melaksanakan yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang. Dalam hadis qudsi, Allah SWT pernah menyatakan, Allah Taala berfirman, "Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku proklamirkan perang kepadanya. Tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih baik bagi-Ku daripada yang Kuwajibkan kepadanya. Senantiasa hamba-Ku mendekat kepadaku dengan mengerjakan yang sunnah-sunnah sampai Aku mencintainya. Bila Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya untuk mendengarkan, matanya untuk melihat, tangannya untuk berkreasi, dan kakinya untuk berjalan. Apabila dia meminta kepada-Ku, pasti Kuberikan. Apabila berlindung kepada-Ku, pasti Kulindungi dia. Tidaklah aku rela mengerjakan sesuatu seperti ragunya aku mengambil nyawa orang mukmin karena mati, sementara Aku tak suka menyakitinya." (HR Bukhari dan yang lainnya).
Kewajiban mengerjakan perintah Allah tidak bisa ditawar-tawar, apalagi ada anggapan pengecualian bagi orang-orang tertentu. Demikian kesalahan besar bagi orang yang mengerjakan sunnah yang banyak, tapi pada saat yang sama dia meninggalkan kewajiban. Seperti orang yang mengeluarkan sedekah tapi tidak bayar zakat. Dalam menjalankan kewajiban ini, umat Islam terbagi menjadi tiga bagian seperti disinggung Al-Qur'an.
"Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar." (Faathir: 32).
Menurut Ibnu Taimiyah, seperti halnya shalat, dhaalimun linafsihi adalah orang yang suka mengundurkan waktu salatnya. Muqtasid adalah orang yang mengerjakan shalat tepat pada waktunya. Sementara saabiqun bil khairat adalah orang yang mengerjakan shalat tepat waktu, berjamaah dan mengerjakan sunnah rawatib.
Umar bin Khattab r.a. berpendapat, sebaik-baik perbuatan adalah mengerjakan yang diwajibkan Allah dan meninggalkan apa yang dilarang Allah serta berbaik niat terhadap Allah.
Ada pula orang yang mempunyai kewajiban menafkahi anak dan istri sehingga untuk itu dia matia-matian mencari rizki. Anehnya sering ia meninggalkan kewajiban lainnya seperti shalat dan yang lainnya. Tak jarang pula dia mencarinya dengan jalan tidak benar seperti riba, korupsi, dll.
Orang yang menjalankan kewajiban dengan benar, menjalankan shalat, berpuasa pada bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat jika mampu, menunaikan haji jika berkecukupan, dan menjalankan tanggung jawab sesama manusia, berarti orang itu telah berjalan setengah langkah menuju keselamatan, sementara setengah berikutnya menghindari hal-hal yang dilarang.
Yang perlu diingat selalu bahwa Allah SWT sayang kepada hambanya. Maka, segala sesuatu yang membahayakan atau merugikan mereka pasti dilarang, sedangkan yang baik dibolehkan. Meskipun sebagian orang tidak tahu apa hikmah pelarangan dan kebolehan sesuatu itu. Untuk hak menghalalkan dan mengharamkan hanya milik Allah SWT.
Rasulullah saw. sudah menjalankan batasan-batasan larangan Allah dalam sabda-sabdanya. Di antaranya, Dari Nu’man bin Basyir r.a. berkata, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Dan di antara keduanya ada yang samar-samar (syubhat), banyak manusia tidak mengetahuinya. Maka barang siapa menjaga dirinya dari hal yang syubhat itu berarti telah bersih agama dan kehormatannya. Sementara, orang yang terlihat dengan syubhat terjatuh ke dalam yang haram tak ubahnya seperti penggembala yang menggembalakan kambingnya di sekitar kebun orang. Lambat laun ia akan memasukinya. Ketauhilah, setiap raja meletakkan batasan larangan. Ingatlah bahwa larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkannya. Sungguh dalam tubuh manusia ada segumpal darah, kalau baik, seluruh badan baik; tapi kalau rusak, seluruh badan rusak. Itulah hati." (HR Bukhari dan Muslim).
Di antara larangan yang disebut-sebut Rasulullah saw. adalah larangan menyekutukan Allah, melawan orang tua, berdukun, menyihir, menipu, berbohong, bersaksi palsu, menyembah kuburan, sombong, dengki, bersumpah selain Allah, riya, tidak khusu' dalam shalat, mendahului imam saat shalat berjamaah, berzina, minum khamar, makan binatang buas, berjudi, menyetubuhi istri saat sedang menstruasi, makan riba, mencuri, menyuap, menyerobot tanah orang, bersumpah palsu, mengumpat, mendengarkan musik-musik, mengagungkan gambar yang bernyawa, menggunakan emas dan sutra bagi pria, menyerupai wanita, sedang wanita menyerupai pria, mengadu domba, meratapi orang mati, menato badan, dll. Semua larangan itu harus kita tinggalkan agar kita mendapat manisnya iman. Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, pasti Allah menggantinya.
Tahap Ketiga: Tazkiyah dengan Menjalankan Sunnah Rasulullah
Istilah yang dimaksud seperti sunnah ahli fiqih, yaitu amalan taat selain yang wajib, apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak terkena sangsi apa-apa.
Mengamalkan yang sunnah-sunnah setelah yang wajib itu diharapkan agar kita sampai pada derajat waliyullah, yang mendapat perlindungan dari Allah, seperti tertera dalam hadis qudsi di atas. Allah mencintai hamba yang senantiasa menjalankan sunnah Rasulullah saw.
Penyimpangan Tazkiyah
Sesudah kita membicarakan metode yang benar dalam bertazkiah, maka sebagai perbandingan, marilah kita melihat penyimpangan tazkiah. Penyimpangan tazkiah paling lengkap dilakukan oleh kalangan sufi dalam ketiga bentuk ditambah dengan metode-metode lain yang diadopsi dari sumber-sumber agama lain dan filsafat Yunani.
Istilah sufi sendiri tidak ada dalam Al-Qur'an dan hadits. Istilah itu baru muncul pada tahun 150 H ketika ada orang bernama Hasyim al-Kufi yang dijuluki sufi. Sementara, orang yang pertama kali menjalankan praktek sufi adalah Ibrahim bin Adham (wafat 161 H). Ia meninggalkan istana, mengembara dengan pakaian jubah wol mirip yang dilakukan Sidarta Gautama.
Kelompok sufi pada generasi pertama masih terikat dengan syariat Al-Qur'an dan sunnah. Mereka hanya merespon kehidupan masyarakat dan penguasa yang cenderung bermewah-mewahan.
Kemudian terjadi penyimpangan pada praktik sufi ketika Al-Husein bin Manshur al-Hallaj memploklamirkan hulul dan iltihad (wihadtul wujud) dan dikafirkan oleh ulama serta digantung di Baghdad pada tahun 309 H. Dan, dilanjutkan oleh Mahyuddin Ibnu Arabi (wafat 638 H). Puncak perkembangan tasawuf ada pada abad 9 dan 10 H.
Jadi, keyakinan sufi yang paling menyimpang adalah wihdatul wujud yang berarti keberadaan mutlak bagi suatu zat yang tinggal menjelma dalam beberapa wujud sesuai dengan keberagamaan sifatnya. Zat itu dapat terlihat oleh mereka dalam wujud apa saja dan menjelma dalam segala bentuk. Keyakinan itu berasal dari India dan Parsi.
Ritual penggemblengan jiwa model tasawuf adalah dengan amalan berupa khalwat, melepaskan diri, tidak tidur, tidak bicara, memusatkan pikiran sambil semedi hingga menyatu dengan pencipta alam (hulul).
Mereka bersiul, bertepuk tangan, dan menyanyi. Mereka meyakini kehadiran Nabi Khidir dalam kehidupan mereka. Mereka menyebut nama Allah dengan lafadz huwa-huwa atau Hu, Hu. Mereka mengharamkan yang dihalalkan Allah seperti melarang minum air dingin, tidak boleh makan daging, dan lain-lain. Mereka meyakini nur Mmuhammad sebagai tujuan Allah menciptakan makhluknya. Mereka berpatokan dengan mimpi-mimpi dalam menetapkan hukum. Mereka membagi ilmu dhahir dan batin. Dhahir adalah syariat dan batin adalah ilmu mereka. Mereka membagi agama menjadi empat tahapan: syariat, thariqat, ma'rifat, dan hakikat. Mereka mengkulutuskan kuburan-kuburan yang dianggap wali.
Demikianlah, semoga dapat memberikan gambaran perbedaan tazkiah yang benar dan yang menyimpang. Wallaahu a'lam.
( Diambil dari www.alislamu.com)
Ditulis oleh Ust Farid Achmad Okbah, M.Ag.

As-Salaf As-Shalih Rujukan Dalam Memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah

As-Salaf As-Shalih Rujukan Dalam Memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah

Pengertian ‘Salaf’
Secara bahasa, salaf berarti orang-orang yang mendahului kita, baik dari segi keilmuan, keimanan, keutamaan, maupun kebaikannya. Ibnul Manzhur berkata, “Salaf juga berarti orang-orang yang mendahuluimu, baik orang tua maupun karib kerabatmu yang lebih tua dan utama darimu.” Termasuk dalam pengertian ini apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah kepada putrinya Fatimah az-Zahra’,
“Sesunguhnya sebaik-baik salaf bagimu adalah aku.” (HR. Muslim no. 1450)Adapun yang dimaksud ‘salaf’ menurut istilah para ulama pada asalnya adalah para sahabat Nabi, kemudian disertakan kepada mereka -dalam istilah tersebut- generasi sesudah mereka yang mengikuti jejak mereka. (Kitab Limadza Ikhtartu Madzhab Salaf hal. 30).
Sedangkan menurut tinjauan waktu, maka ‘salaf’ maksudnya adalah generasi-generasi terbaik yang patut diteladani dan diikuti, yaitu tiga generasi pertama yang telah dipersaksikan keutamaannya oleh Rasulullah dalam sabdanya:
“Sebaik-baik umat adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya, kemudian sesudahnya lagi.” (Akan datang takhrijnya sebentar lagi)
Namun, makna ‘salaf’ menurut tinjauan waktu ini masih belum cukup, karena kita melihat kemunculan firqah-firqah sesat dan bid‘ah-bid‘ah pada masa-masa tersebut, sehingga orang yang hidup pada masa tersebut tidak cukup dikatakan bahwa dia berada di atas manhaj Salaf sampai diketahui bahwa dia sejalan dengan para sahabat dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Oleh karena itu, para ulama menambahkan dengan istilah ‘As-Salaf Ash-Shalih’ (generasi Salaf yang saleh). Pada perkembangan selanjutnya istilah salaf dinisbatkan kepada ‘orang-orang yang senantiasa menjaga aqidah dan manhaj hidupnya agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah dan para sahabatnya sebelum terjadi perpecahan dan perselisihan’, yaitu dengan munculnya beberapa macam firqah (kelompok Islam sempalan). (Ibid hal. 30-33)
Kewajiban Merujuk kepada Pemahaman Salaf
Sebagai seorang muslim kita dituntut untuk menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup. Keselamatan hidup kita, dunia dan akhirat, hanya akan diperoleh dengan cara kita tunduk dan patuh kepada keduanya (baca kembali “ Majalah Fatawa” edisi ke-2). Namun kenyataan di lapangan menunjukan bahwa kaum muslimin terpecah-belah dalam berbagai pemahaman. Semua mengklaim dirinyalah yang berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Masing-masing mengaku paling benar dan menyalahkan orang lain yang menyelisihinya. Pertanyaan kita adalah siapakah yang paling benar dan paling tepat dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah sehingga kita tidak boleh meyelisihi mereka? Jawabannya adalah para sahabat Nabi. Para sahabat itulah orang-orang yang paling paham tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah karena mereka hidup di zaman turunnya kedua wahyu tersebut kepada Nabi. Maka wajib bagi kita mengikuti petunjuk dan bimbingan mereka.
Dalil-Dalil Bahwa Pemahaman Salaf Wajib Menjadi Rujukan(lihat Limadza Ikhtartu al-Manhaj as-Salafi hal. 86-98, dengan perubahan).
Beberapa dalil di bawah ini menunjukkan bahwa pemahaman salaf wajib menjadi rujukan umat Islam dalam memahami agamanya.
1. Allah berfirman,
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka (dalam melaksanakan) kebaikan, Allah ridha kepada mereka; dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang di dalamnya terdapat sungai-sungai yang mengalir. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)
Dalam ayat di atas Allah memuji generasi Salaf dan orang-orang yang mengikuti mereka. Maka, dari sini dapat diketahui bahwa bila Salaf mengemukakan suatu pendapat kemudian diikuti oleh orang-orang pada generasi berikutnya, maka mereka menjadi orang-orang yang terpuji dan berhak mendapatkan keridhaan dari Allah sebagaimana yang didapatkan oleh generasi Salaf. Kalaulah mengikuti jejak Salaf tidak berbeda dengan mengikuti jejak selainnya, niscaya mereka tidak pantas untuk dipuji dan diridhai; dan hal seperti itu jelas bertentangan dengan ayat di atas. Dengan demikian, berdasarkan ayat di atas telah jelas bahwa pemahaman Salaf menjadi rujukan bagi generasi berikutnya.
2. Allah berfirman,
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; menyuruh kepada yang ma‘ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Namun, di antara mereka ternyata ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran: 110)
Dalam ayat ini Allah menetapkan adanya keutamaan generasi Salaf dibanding keseluruhan umat karena pernyataan dalam ayat tersebut tertuju kepada kaum muslimin, yang waktu itu tiada lain adalah para sahabat, generasi salaf pertama yang mendulang ilmu langsung dari Rasulullah tanpa perantara. Adanya pemberian gelar kepada mereka sebagai umat terbaik menunjukkan bahwa mereka itu senantiasa istiqamah dalam segala hal, sehingga tidak akan menyimpang dari kebenaran. Allah juga menjelaskan sifat mereka sebagai bukti kelurusan jalan hidup mereka, yaitu bahwa mereka selalu memerintahkan kepada yang ma‘ruf dan melarang seluruh yang mungkar. Berdasarkan ayat di atas, juga jelas bahwa pemahaman Salaf menjadi hujjah dan rujukan bagi generasi sesudah mereka sampai Hari Kiamat.
3. Rasulullah bersabda,
“Sebaik–baik manusia adalah generasiku; kemudian generasi sesudahnya; kemudian generasi sesudahnya lagi. Selanjutnya akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang di antara mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” (Hadits mutawatir, di antaranya dengan lafal di atas yang diriwayatkan oleh Bukhari no. 2509, 3451, dan 6065, Muslim no. 1533, dan lainnya)
Apakah yang menjadi ukuran kebaikan pada diri mereka (tiga generasi Salaf) dalam hadits Rasulullah tersebut adalah warna kulit, bentuk tubuh, harta, atau yang sejenisnya? Jelas bukan! Dan tidak diragukan lagi bahwa ukuran kebaikan yang dimaksud tidak lain adalah ketakwaan hati dan amal saleh. Mengenai hal ini Allah berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian menurut pandangan Allah adalah yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan melihat rupa dan harta kekayaan kalian. Allah hanya akan melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim no. 2564)
Salah seorang sahabat Nabi, Ibnu Mas‘ud, menceritakan bahwa Allah telah menjelaskan kepada umat ini bahwa hati para sahabat adalah sebaik-baik hati setelah hati Nabi Muhammad. Allah menganugerahkan kepada mereka pemahaman yang tidak akan pernah dicapai oleh generasi berikutnya. Sehingga, apa-apa yang mereka nilai baik, maka akan baik menurut Allah dan apa-apa yang mereka nilai buruk, juga menjadi buruk menurut Allah. (Lihat Musnad Ahmad I/379)
Jadi jelaslah, pemahaman Salaf menjadi rujukan bagi generasi sesudahnya sampai Hari Akhir nanti.
4. Allah berfirman,
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.” (QS. Al-Baqarah: 143)
Kata wasath pada ayat di atas artinya adil dan pilihan. Sebagaimana halnya kandungan ayat pada poin dua, walaupun sifat yang terkandung dalam ayat di atas adalah kaum muslimin secara umum, namun generasi Salaf masuk dalam barisan pertama yang mendapatkan gelaran sifat tersebut. Mereka adalah manusia yang paling adil dan pilihan. Mereka adalah generasi utama dalam umat ini. Mereka paling adil dalam berbuat, dalam berkata-kata, dan dalam berkehendak. Memang sangat pantaslah mereka dijadikan saksi atas seluruh umat. Persaksian mereka akan diterima di hadapan Allah karena persaksian mereka berdasarkan ilmu dan kejujuran. Mengenai hal ini Allah berfirman,
“Dan sembahan-sembahan selain Allah yang mereka sembah itu tidak dapat memberi pembelaan. (Orang yang dapat memberi pembelaan adalah) tidak lain orang yang bersaksi dengan benar (yaitu orang yang bertauhid) dan meyakini(nya).” (QS. Az-Zukhruf: 86)
Jika persaksian mereka diterima di hadapan Allah, tentu tidak diragukan lagi bahwa pemahaman mereka menjadi rujukan bagi generasi sesudahnya. Memang umat Islam telah bersepakat bahwa tidak ada generasi yang berpredikat adil secara mutlak kecuali para sahabat. Sehingga, berita mereka pasti diterima dan tidak perlu diteliti lagi kebenarannya. Dari situ jelaslah, bahwa pemahaman mereka menjadi rujukan bagi yang lainnya dalam memahami nas-nas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kita diperintahkan untuk mengikuti jejak dan jalan hidup mereka.
5. Allah berfirman,
“… dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.” (QS. Luqman: 15)
Para sahabat adalah orang-orang yang senantiasa kembali kepada Allah, sehingga Allah memberikan bimbingan kepada mereka bagaimana berkata dan beramal yang baik. Mengenai hal ini Allah berfirman,
“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan mau kembali kepada Allah, mereka mendapatkan kabar gembira; oleh sebab itu, sampaikanlah kabar tersebut kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan-perkataan lalu mengikuti mana yang paling baik di antara perkataan tersebut. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang- orang yang mempunyai akal.” (QS. Az-Zummar: 17-18)
Orang yang menelaah perjalanan hidup para sahabat pasti akan mengetahui bahwa seluruh sifat yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut dimiliki oleh mereka. Jadi, memang sudah seharusnyalah kita mengikuti jejak mereka dalam memahami agama Allah ini, baik dalam memahami Kitab-Nya maupun Sunnah Nabi-Nya. Allah mengancam orang yang tidak mau mengikuti jalan mereka dengan api neraka, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
“Barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan tidak mengikuti jalan orang-orang beriman, maka Kami biarkan dia dikuasai oleh kesesatan dan akan Kami masukkan ke dalam neraka Jahannam. Padahal neraka Jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)
Dalam ayat tersebut, Allah mengancam orang yang tidak mengikuti jalan orang-orang beriman. Yaitu, jalan para sahabat -sebagai generasi pertama yang dimaksudkan dalam ayat tersebut- dan generasi sesudahnya. Ini menunjukkan bahwa mengikuti jalan mereka dalam memahami syariat Allah adalah wajib. Barangsiapa berpaling dari jalan mereka, maka dia akan menuai kesesatan dan diancam dengan neraka Jahanam. Tidak ada jalan lain yang harus kita tempuh selain jalan kaum mukminin, sebagaimana tersebut dalam firman Allah:
“Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah, Rabb kamu yang sebenarnya. Tidak ada yang lain setelah kebenaran itu, kecuali kesesatan. Maka, mengapa kamu mau dipalingkan (dari kebenaran).” (QS. Yunus: 32)
Siapapun yang tidak mengikuti jalan orang-orang beriman pasti dia mengikuti jalan orang-orang yang tidak beriman. Siapa saja yang mau mengikuti jalan orang-orang beriman -jalannya para sahabat - jelas akan mendapatkan keselamatan. Jelaslah, pemahaman para sahabat -sebagai generasi salaf pertama- dalam memahami agama adalah menjadi rujukan bagi kita semuanya. Barangsiapa berpaling darinya, maka sesungguhnya dia telah memilih kebengkokan dan kesempitan. Cukuplah neraka Jahannam sebagai balasan baginya; padahal Jahannam itu sejelek-jelek tempat kembali dan tempat tinggal.
6. Rasulullah pernah bersabda dalam hadits yang menyebutkan tentang perpecahan umat. Dalam hadits tersebut beliau memerintahkan kepada kita agar memegang teguh sunnah beliau dan sunnah Khulafa’ Rasyidin. Beliau bersabda,
“Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh kepada perikehidipanku dan perikehidupan Khulafa’ Rasyidin sepeninggalku.”
Beliau menyatakan bahwa dari sekian banyak kelompok Islam hanya ada satu yang selamat dan menjadi ahli surga, yaitu mereka yang menempuh perikehidupan sesuai dengan bimbingan Rasulullah dan para sahabatnya. Hal ini beliau tegaskan dalam sabdanya,
“Semuanya masuk neraka kecuali satu golongan saja yaitu golongan yang pada saat itu mengikuti peri kehidupanku dan peri kehidupan para sahabatku.”
Berdasarkan riwayat-riwayat di atas kita mengetahui bahwa perikehidupan seluruh sahabat adalah perikehidupan Khulafa’ Rasyidin dan perikehidupan Rasulullah. Jadi jelaslah, pemahaman sahabat -sebagai generasi salaf pertama- menjadi rujukan bagi generasi berikutnya.
Para Salafi Pengikut Jalan Hidup Rasulullah dan Para Sahabatnya
Berdasarkan keterangan-keterangan di atas jelaslah bahwa mengikuti jalan hidup Rasulullah dan para sahabat adalah satu-satunya jalan keluar dan pilihan yang tepat. Lalu, siapakah di antara sekian banyak kelompok dalam Islam yang jalan hidupnya mengikuti Rasulullah dan para sahabat? Jawabannya tidak lain adalah para salafi.
Jawaban tersebut disimpulkan dari dua hal berikut:
Pertama, paham-paham sesat seperti Khawarij, Rafidhah (Syi‘ah), Murji‘ah, Jahmiyah, Qadariyah, Mu‘tazilah, dan lain-lain muncul setelah masa kenabian dan masa Khulafa’ Rasyidin. Paham-paham sesat seperti itu bertolak belakang seratus delapan puluh derajat dengan jalan hidup Rasulullah dan para sahabat. Bukankah tidak mungkin kita mengatakan bahwa jalan hidup para sahabat sama dengan jalan hidup mereka? Jelas tidak mungkin. Dengan demikian jelaslah bahwa yang benar dan perlu kita ikuti jalan hidupnya bukanlah kelompok-kelompok sesat di atas. Kalau bukan mereka itu, siapa? Jelas, para salafi, yaitu orang-orang yang selalu berpegang erat dengan jalan hidup Rasulullah dan para sahabat.
Kedua, tidak kita dapati kelompok-kelompok dalam Islam yang mempunyai jalan hidup seperti jalan hidup Rasulullah dan para sahabat kecuali Ahlus Sunnah. Ahlus Sunnah ini tidak lain adalah para salafi. Mengapa? Perlu diketahui, bahwa kelompok-kelompok sesat tersebut sebagian dari mereka meragukan keadilan sikap sahabat; sebagian yang lain bahkan mengkafirkan sahabat; sebagian yang lainnya lagi lebih mendewakan akal daripada harus kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Bagaimana mungkin kelompok-kelompok sesat itu mau mengikuti jalan hidup Rasulullah dan para sahabat, sementara jalan hidup mereka seperti itu? Wallahu a‘lam bish shawab.
(Diambil Dari www.muslim.or.id )